Finansial

Tren Keuangan 2026: Gen Z Dominasi Pasar Digital dengan Daya Beli Mencapai Rp 6.054 Triliun

Advertisement

Perubahan lanskap ekonomi digital telah menciptakan dinamika baru dalam perilaku konsumsi antara Generasi Z dan Milenial. Sebagai dua kelompok yang mendominasi aktivitas ekonomi global, keduanya memiliki karakteristik kontras dalam mengelola pengeluaran, utang, hingga pemanfaatan instrumen keuangan modern di tengah meningkatnya daya beli mereka.

Lonjakan Daya Beli Gen Z di Pasar Digital

Gen Z kini bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang sangat diperhitungkan oleh pelaku industri global. Berdasarkan data The Financial Express per Senin (16/2/2026), sekitar 44 persen Gen Z di seluruh dunia melakukan transaksi melalui media sosial dengan total daya beli mencapai 360 miliar dollar AS atau setara Rp 6.054 triliun.

Proyeksi jangka panjang menunjukkan potensi yang jauh lebih masif, di mana total belanja Gen Z diperkirakan menyentuh angka 12 triliun dollar AS atau sekitar Rp 201.828 triliun pada tahun 2030. Laporan Afterpay juga menyebutkan bahwa generasi ini akan mewakili 17 persen dari total belanja ritel global dalam dekade mendatang.

Ketergantungan pada Teknologi dan Layanan Paylater

Sebagai digital native, Gen Z sangat terbiasa dengan transaksi digital melalui platform e-commerce dan media sosial. Kemudahan akses ini memicu proses belanja yang lebih cepat dan sering kali bersifat impulsif. Salah satu tren yang mencolok adalah tingginya ketergantungan pada layanan Buy Now Pay Later (BNPL).

Laporan GWI mengungkapkan bahwa Gen Z memanfaatkan skema cicilan ini untuk mengakses berbagai produk, termasuk barang premium, meskipun pendapatan mereka belum sepenuhnya stabil. Fleksibilitas pembayaran menjadi daya tarik utama bagi generasi yang tumbuh sepenuhnya di era internet ini.

Perbandingan Pola Konsumsi: Impulsif vs Terencana

Meskipun kedua generasi gemar berbelanja online, terdapat perbedaan signifikan dalam frekuensi dan motivasi pembelian:

Advertisement

  • Gen Z: Cenderung lebih impulsif, terutama untuk barang berharga rendah. Mereka memiliki kemungkinan 2,6 kali lebih besar untuk membeli pakaian setiap minggu dibandingkan generasi lainnya.
  • Milenial: Memiliki pola belanja yang lebih seimbang, disengaja, dan berorientasi pada nilai jangka panjang serta pengalaman hidup.

Milenial umumnya lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan karena berada pada fase kehidupan yang matang, seperti mengelola cicilan rumah, kendaraan, dan kebutuhan keluarga. Hal ini berbanding terbalik dengan Gen Z yang masih memprioritaskan ekspresi diri dan identitas digital melalui konsumsi barang-barang tren.

Manajemen Utang dan Prioritas Investasi

Perbedaan mencolok juga terlihat pada cara kedua generasi memandang utang. Gen Z lebih rentan terhadap utang jangka pendek melalui layanan pembiayaan fleksibel untuk konsumsi harian. Sebaliknya, Milenial lebih banyak mengambil utang jangka panjang untuk akumulasi aset bernilai besar seperti properti.

Namun, kedua generasi menunjukkan tren positif dalam literasi keuangan. Investasi pada instrumen seperti reksa dana dan saham kini mulai dianggap sebagai bagian dari gaya hidup. Meskipun Gen Z sangat aktif berbelanja, sekitar 48 persen dari mereka tetap sensitif terhadap harga dan aktif mencari diskon serta promosi untuk mendapatkan nilai terbaik.

Informasi lengkap mengenai dinamika perilaku ekonomi lintas generasi ini disampaikan melalui laporan tren keuangan global dan data pasar yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement