Edukasi

UGM hingga Undip Luncurkan 33 Prodi Dokter Spesialis Baru Guna Atasi Krisis Tenaga Medis Nasional

Advertisement

Lima perguruan tinggi besar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah resmi meluncurkan 33 Program Studi (Prodi) baru untuk Dokter Spesialis (PPDS) dan Dokter Subspesialis (PPDSS) pada Selasa (17/2/2026). Langkah strategis ini melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Islam Indonesia (UII), dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Strategi Percepatan Pemenuhan Tenaga Medis

Tenaga Ahli Mendikti Saintek sekaligus Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., M.Si., menegaskan bahwa pembukaan prodi baru ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah. Fokus utamanya adalah memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan nasional melalui percepatan produksi dokter spesialis dan subspesialis.

“Pemerintah menargetkan percepatan produksi dokter spesialis dan subspesialis untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kolaborasi antaruniversitas di Jawa Tengah dan DIY ini merupakan bukti nyata sinergi akademisi dalam menjamin kesehatan bangsa,” ujar Prof. Tri Hanggono.

Ia menambahkan bahwa upaya akselerasi ini harus tetap mengedepankan penjaminan mutu pendidikan. Penguatan sistem pembelajaran klinik serta pemenuhan standar kompetensi lulusan menjadi prioritas agar dokter yang dihasilkan mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang kompleks, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Kesenjangan Data Kebutuhan Dokter Spesialis

Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, menyoroti tantangan besar Indonesia sebagai negara kepulauan dengan distribusi tenaga kesehatan yang belum merata. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2025, terdapat kesenjangan yang signifikan antara jumlah lulusan dengan kebutuhan riil di lapangan.

  • Produksi dokter spesialis saat ini: ± 2.700 dokter per tahun.
  • Kebutuhan ideal nasional: ± 32.000 dokter spesialis per tahun.

Kondisi ini menuntut perluasan kapasitas pendidikan agar masyarakat di seluruh pelosok negeri, khususnya wilayah 4T (Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Transmigrasi), memiliki akses setara terhadap layanan kesehatan tingkat lanjut yang berkualitas.

Advertisement

Rincian Sebaran 33 Program Studi Baru

Sebanyak 33 prodi baru yang diluncurkan terbagi ke dalam lima universitas dengan spesialisasi yang beragam. Berikut adalah rincian kontribusi masing-masing perguruan tinggi:

UniversitasJumlah ProdiFokus Bidang
Universitas Diponegoro (Undip)15 ProdiBedah Urologi, Orthopedi, Bedah Anak, Bedah Saraf, Anestesiologi.
Universitas Sebelas Maret (UNS)10 ProdiBedah Plastik, Mata, Kedokteran Keluarga Layanan Primer, Gizi Klinik.
Universitas Gadjah Mada (UGM)6 ProdiJantung, Forensik, Patologi, Pulmonologi, Rehabilitasi Medik.
Univ. Jenderal Soedirman (Unsoed)1 ProdiSpesialis Patologi Anatomi.
Universitas Islam Indonesia (UII)1 ProdiSpesialis Patologi Klinik.

Rektor UNS menegaskan bahwa pendidikan ini tidak hanya fokus pada transfer ilmu medis, tetapi juga pembentukan karakter pengabdian. Kelima universitas berkomitmen mendidik dokter yang tangguh secara mental dan memiliki kepedulian sosial untuk ditempatkan di daerah terpencil.

Informasi mengenai peluncuran program studi baru ini merujuk pada pernyataan resmi para pimpinan perguruan tinggi dan Tim Kajian Mendikti Saintek dalam agenda yang berlangsung di Surakarta pada 17 Februari 2026.

Advertisement