Edukasi

Wamendikdasmen Ungkap Rendahnya Kompetensi Guru: Hasil UKBI di Garut Hanya 20 Persen yang Unggul

Advertisement

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menyoroti rendahnya kompetensi guru dalam penguasaan Bahasa Indonesia dan Matematika. Hal ini disampaikan dalam penutupan Konsolidasi Nasional yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen pada Rabu (11/2/2026).

Hasil UKBI yang Memprihatinkan

Atip mengungkapkan kekecewaannya terhadap hasil Uji Kompetensi Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dilakukan di sejumlah daerah. Salah satu contoh yang ia paparkan adalah hasil pengujian di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang menunjukkan angka penguasaan bahasa yang minim.

“Kita mendapat contohnya kemampuan bahasa (Indonesia) yang agak-agak miris,” ujar Atip. Ia menjelaskan bahwa mayoritas guru justru menduduki kategori kemampuan menengah, sementara kategori unggul masih sangat sedikit.

“Jadi yang unggul itu (nilainya) tampaknya di bawah 20 persen,” tambahnya. Atip menekankan bahwa kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar utama dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Masalah Kompetensi pada Mata Pelajaran Matematika

Selain penguasaan bahasa, Atip juga menyoroti persoalan serupa pada kompetensi guru Matematika. Ia menceritakan sebuah insiden di mana seorang guru mata pelajaran tersebut tidak mampu menyelesaikan soal yang diberikan kepadanya.

Advertisement

“Pernah satu kesempatan guru matematika itu diminta untuk menyelesaikan satu soal matematika. Dia tidak bisa jawab,” ungkap Atip. Hal ini memperkuat pandangannya bahwa peningkatan kualitas tenaga pendidik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Keseimbangan Antara Kesejahteraan dan Kompetensi

Wamendikdasmen menilai selama ini kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, cenderung terlalu fokus pada aspek kesejahteraan guru. Meskipun kesejahteraan adalah hak yang wajib dipenuhi, ia mengingatkan agar aspek kompetensi tidak terabaikan.

“Jadi kita terlalu fokus pada kesejahteraan padahal itu sesuatu yang pasti tapi kita agak alpa dengan kompetensi,” pungkas Atip. Menurutnya, penyelesaian masalah kompetensi sangat krusial untuk mendongkrak kualitas pendidikan nasional secara menyeluruh.

Informasi mengenai evaluasi kompetensi tenaga pendidik ini disampaikan melalui pernyataan resmi Wamendikdasmen Atip Latipulhayat dalam agenda Konsolidasi Nasional Kemendikdasmen.

Advertisement