Apa Itu Epstein Files? Penjelasan Lengkap Dokumen Skandal Jeffrey Epstein, Biar Gak Ketinggalan Update
Epstein Files adalah kumpulan dokumen hukum, transkrip pengadilan, dan materi investigasi yang sangat luas terkait dengan kasus kejahatan seksual yang melibatkan mendiang pemodal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein. Berkas-berkas ini mencakup ribuan hingga jutaan halaman yang mendokumentasikan jaringan sosial, aktivitas bisnis, serta praktik perdagangan seks yang dilakukan Epstein selama beberapa dekade.
Puncak perhatian publik terhadap berkas ini kembali terjadi pada akhir Januari 2026, setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara resmi merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen tambahan. Perilisan ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan pada akhir tahun 2025, yang mewajibkan keterbukaan penuh atas penyelidikan terhadap Epstein dan rekan-rekannya.
Apa Itu Epstein Files dan Mengapa Begitu Penting?

Secara teknis, “Epstein Files” merujuk pada materi yang dikumpulkan oleh penegak hukum sejak penyelidikan pertama Epstein di Florida pada tahun 2008 hingga kematiannya di penjara pada tahun 2019. Dokumen-dokumen ini tidak hanya berisi bukti kriminal, tetapi juga rincian logistik seperti catatan penerbangan jet pribadi miliknya yang dijuluki “Lolita Express,” korespondensi email, dan daftar kontak yang sangat panjang.
Pentingnya dokumen ini terletak pada skala jaringan yang dibangun oleh Epstein. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia, mulai dari politisi tingkat tinggi, anggota kerajaan, hingga ilmuwan terkemuka. Publik memandang perilisan dokumen ini sebagai upaya untuk mengungkap apakah ada pihak-pihak berkuasa lain yang terlibat dalam aktivitas ilegal Epstein atau setidaknya mengetahui praktik tersebut namun memilih diam.
“Rilis hari ini menandai berakhirnya proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif untuk memastikan transparansi kepada rakyat Amerika dan kepatuhan terhadap hukum,” ujar Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, sebagaimana dikutip dari kompas.com pada Sabtu (31/1/2026).
Isi di Balik Berkas Tiga Juta Halaman
Dalam rilis terbaru pada 30 Januari 2026, dokumen yang dibuka untuk publik mencapai angka yang fantastis. Berkas tersebut mencakup sekitar 3,5 juta halaman dokumen teks, lebih dari 180.000 gambar, serta sekitar 2.000 video. Mayoritas materi digital tersebut ditemukan dalam perangkat yang disita dari kediaman Epstein di New York dan pulau pribadinya di Kepulauan Virgin AS.
Dokumen ini mencakup berbagai aspek kehidupan Epstein, termasuk:
- Catatan Penerbangan: Detail mengenai siapa saja yang terbang bersama Epstein ke berbagai properti miliknya.
- Transkrip Deposisi: Kesaksian di bawah sumpah dari para korban, termasuk Virginia Giuffre, dan mantan rekan kerja Epstein seperti Ghislaine Maxwell.
- Laporan Psikologis dan Medis: Dokumen yang mencatat kondisi kesehatan mental Epstein selama di dalam tahanan hingga laporan autopsi kematiannya.
- Korespondensi Email: Ribuan email yang menghubungkan Epstein dengan para elit bisnis dan tokoh publik internasional.
Sebagian besar gambar dan video yang dirilis telah disensor oleh pemerintah untuk melindungi identitas korban. Namun, keberadaan materi tersebut mempertegas betapa masifnya skala pelecehan yang terjadi di bawah jaringan Epstein.
Daftar Nama Tokoh dan Kesalahpahaman Publik
Salah satu bagian yang paling banyak dicari dalam Epstein Files adalah apa yang sering disebut publik sebagai “daftar klien.” Namun, penting untuk dipahami bahwa dokumen-dokumen ini sebenarnya tidak berisi satu daftar tunggal berjudul “klien.” Sebaliknya, nama-nama tokoh muncul dalam berbagai konteks hukum yang berbeda.
Nama-nama seperti mantan Presiden AS Bill Clinton, Donald Trump, hingga Pangeran Andrew dari Inggris telah lama muncul dalam berbagai bagian dokumen. Munculnya nama seseorang dalam berkas ini tidak serta-merta berarti mereka terlibat dalam tindakan kriminal. Beberapa orang disebutkan karena pernah menjadi tamu di acara sosial Epstein, terbang di pesawatnya, atau sekadar muncul dalam daftar kontak teleponnya.
Misalnya, fisikawan Stephen Hawking disebut dalam dokumen terkait kehadirannya dalam konferensi ilmiah yang disponsori oleh Epstein. “Munculnya sebuah nama dalam dokumen tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa orang tersebut terlibat dalam kejahatan atau melakukan tindakan ilegal,” tulis laporan dari Universitas Siber Asia (UNSIA) sebagaimana dilansir melalui unsia.ac.id (1/2/2026).
Dampak Politik dan Undang-Undang Transparansi 2025
Keterbukaan informasi ini merupakan hasil dari pergolakan politik yang panjang di Amerika Serikat. Pada 18 November 2025, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan Epstein Files Transparency Act dengan dukungan mayoritas mutlak 427 berbanding 1 suara. Undang-undang ini kemudian ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, yang mewajibkan Departemen Kehakiman untuk membuka hampir seluruh arsip terkait Epstein.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya skeptisisme publik terhadap transparansi pemerintah. Selama bertahun-tahun, banyak pihak menuduh bahwa DOJ dan FBI mencoba menutupi keterlibatan tokoh-tokoh tertentu. Meskipun rilis tahun 2026 ini sangat masif, beberapa anggota parlemen dan kelompok aktivis korban tetap mengkritik adanya bagian yang masih disunting (disensor).
Analis hukum melihat bahwa pengungkapan ini bukan hanya soal keadilan bagi para korban, tetapi juga sebagai ujian terhadap sistem hukum Amerika Serikat dalam menghadapi individu-individu dengan kekuasaan besar. Kasus Epstein telah menjadi simbol bagaimana uang dan pengaruh dapat digunakan untuk membangun jaringan eksploitasi yang tersembunyi selama puluhan tahun di depan mata publik.