AS dan Iran Gelar Perundingan Krusial di Oman: Bahas Nuklir hingga Ancaman Militer
Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan langsung pada Jumat, 6 Februari 2026, di Muscat, Oman. Pertemuan ini menandai dialog langsung pertama kedua negara sejak Iran melancarkan tindakan keras terhadap gelombang protes nasional yang menewaskan ribuan orang, menurut laporan kelompok hak asasi manusia.
Gedung Putih telah mengonfirmasi rencana pertemuan tersebut, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan akan difokuskan secara eksklusif pada isu nuklir.
Fokus Perundingan: Nuklir atau Lebih Luas?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa perundingan dengan Amerika Serikat akan terbatas pada isu nuklir. “Perundingan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung Jumat pagi di Muscat,” kata Araghchi pada Rabu (5/2/2026), seraya mengucapkan terima kasih kepada Oman atas perannya dalam memfasilitasi pertemuan ini.
Teheran secara konsisten menolak pembahasan mengenai program rudal balistik maupun kebijakan pertahanan nasionalnya. Sumber diplomatik di kawasan juga menyebut Iran menginginkan dialog dilakukan secara eksklusif dengan Amerika Serikat, tanpa keterlibatan negara-negara regional lain.
Sikap Berseberangan Washington
Posisi Iran ini berseberangan dengan sikap Washington. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menilai pembicaraan tidak akan bermakna jika hanya membahas nuklir. “Jika perundingan ini ingin menghasilkan sesuatu yang nyata, maka itu harus mencakup program nuklir Iran, jangkauan rudal balistiknya, dukungan terhadap organisasi teroris di kawasan, serta perlakuan pemerintah Iran terhadap rakyatnya sendiri,” ujar Rubio.
Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat siap berdialog, tetapi tidak akan membatasi topik pembahasan sesuai keinginan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada mulanya menekan Teheran untuk menghentikan kekerasan terhadap demonstran dan memperingatkan agar Iran tidak mengeksekusi mereka yang ditangkap. Namun, fokus AS kemudian bergeser ke upaya merumuskan kesepakatan baru terkait program nuklir Iran, yang oleh Washington dan sekutunya diyakini bertujuan mengembangkan senjata atom.
Selain isu nuklir, AS juga ingin membatasi dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan serta memangkas arsenal rudal balistiknya.
Ancaman Aksi Militer AS
Presiden AS Donald Trump belum menutup kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan. Ancaman itu menyusul serangan AS ke sejumlah fasilitas nuklir Iran dalam perang Israel-Iran pada Juni lalu.
“Saya kira dia seharusnya sangat khawatir,” kata Trump merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dalam wawancara dengan NBC News pada Rabu. Trump menambahkan bahwa pemerintahannya masih membuka jalur diplomasi. “Seperti yang Anda tahu, mereka sedang bernegosiasi dengan kami,” ujarnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, AS telah mengerahkan kelompok tempur yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Iran merespons dengan ancaman akan menyerang pangkalan dan kapal militer AS di wilayah tersebut jika diserang.
Ketegangan Pasca Penindakan Protes
Hubungan AS-Iran semakin memburuk setelah aparat keamanan Iran menindak keras gelombang demonstrasi besar-besaran. Kelompok HAM melaporkan ribuan orang tewas, sementara penindakan tersebut berlangsung di tengah pemadaman internet selama berminggu-minggu.
Masih belum jelas bentuk intervensi militer apa yang mungkin ditempuh AS jika diplomasi gagal, mulai dari serangan terbatas ke infrastruktur militer hingga skenario ekstrem berupa upaya menggulingkan sistem pemerintahan yang dipimpin Khamenei sejak Revolusi Islam 1979.
Delegasi Kunci dalam Perundingan
Iran dilaporkan akan diwakili oleh Abbas Araghchi dalam perundingan esok hari dengan AS. Ia dikenal sebagai diplomat senior yang berpengalaman dan sabar dalam perundingan. Araghchi merupakan penutur bahasa Inggris yang fasih dan meraih gelar doktor pemikiran politik Islam dari University of Kent, Inggris.
Sementara itu, Amerika Serikat menunjuk Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah. Witkoff, mantan pengusaha properti, juga terlibat aktif dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Perundingan AS-Iran di Oman kali ini dinilai menjadi titik krusial yang akan menentukan apakah kedua negara mampu meredakan ketegangan melalui diplomasi, atau justru melangkah menuju eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis pada 5 Februari 2026.