Berita

AS dan Israel Soroti Iran dengan Pendekatan Berbeda: Diplomasi vs. Garis Keras Jelang Perundingan

Amerika Serikat (AS) dan Israel, dua sekutu dekat di Timur Tengah, disebut memiliki tujuan yang berbeda dalam menghadapi Iran. Perbedaan agenda ini semakin terlihat menjelang rencana perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir yang dijadwalkan pada Jumat, 6 Februari 2026, di Oman.

Perbedaan Pendekatan AS dan Israel

Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan menyerang Iran menyusul penindakan mematikan terhadap gerakan protes sejak Desember 2025, kini justru tampak membuka jalur diplomasi dengan Teheran. Sikap ini kontras dengan pendekatan Israel yang, menurut para analis, tetap mengedepankan garis keras dan bahkan menginginkan runtuhnya kepemimpinan ulama Iran.

Analis geopolitik Michael Horowitz kepada Kantor berita AFP pada Rabu, 4 Februari 2026, menyatakan, “Israel dan Trump memang memiliki musuh yang sama, tetapi agenda mereka terhadap Iran tidak sepenuhnya sejalan.” Horowitz menambahkan bahwa Israel mendorong strategi jangka panjang untuk melemahkan Iran secara permanen, bahkan membuka opsi serangan lanjutan bila diperlukan. “Bagi Netanyahu, tujuan maksimalnya jelas, yakni perubahan rezim atau setidaknya pelucutan total kemampuan nuklir dan rudal Iran,” ujarnya.

Sementara itu, Trump dinilai tidak ingin mengambil risiko terlibat dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah. Perbedaan taktik ini, menurut Horowitz, menimbulkan ketegangan tersendiri di Israel dan menciptakan ketidakpastian, terutama karena opini publik di negara itu terbelah soal kemungkinan serangan terhadap Iran.

Israel di Garis Depan Risiko Balasan

Jika Amerika Serikat benar-benar melancarkan serangan ke Iran, Israel, yang berjarak sekitar 2.000 kilometer dari Iran, diperkirakan akan berada di garis depan serangan balasan Teheran. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa negaranya tidak akan ragu merespons jika diserang.

“Jika Iran melakukan kesalahan besar dengan menyerang Israel, kami akan merespons dengan kekuatan yang belum pernah mereka saksikan,” kata Netanyahu bulan lalu. Pada Selasa, 3 Februari 2026, Netanyahu juga menyampaikan kepada utusan khusus AS Steve Witkoff bahwa Iran “tidak dapat dipercaya”.

Berdasarkan survei Israel Democracy Institute yang dirilis pada Selasa, sebanyak 50 persen warga Israel menyatakan hanya mendukung serangan terhadap Iran jika bersifat balasan. Sementara 44 persen lainnya mendukung aksi militer jika dilakukan bersama Amerika Serikat.

Motif Politik Domestik Mempengaruhi Sikap

Pakar Timur Tengah dari International Crisis Group, Mairav Zonszein, menilai perbedaan sikap AS dan Israel juga dipengaruhi oleh kepentingan politik domestik masing-masing pemimpin. Trump, kata dia, tidak memiliki banyak keuntungan politik di dalam negeri jika terlibat dalam konflik panjang dengan Iran. Sebaliknya, Netanyahu justru membangun karier politiknya dengan menekankan ancaman dari program nuklir Iran dan bahaya Teheran bagi Israel.

Sejarah Panjang Ketegangan AS-Israel-Iran

Iran dan Israel telah menjadi musuh bebuyutan sejak Revolusi Islam 1979, ketika Iran mendirikan Republik Islam yang tidak mengakui hak Israel untuk eksis. Tahun lalu, kedua negara terlibat dalam perang selama 12 hari, dipicu oleh serangan Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran, termasuk kawasan permukiman. Amerika Serikat kemudian ikut menyerang dengan membombardir tiga situs nuklir Iran, sebelum gencatan senjata yang diprakarsai Trump diberlakukan. Di Israel, konflik tersebut menewaskan 30 orang dan menyebabkan kerusakan besar, termasuk pada sebuah rumah sakit serta fasilitas publik dan militer.

Ketegangan semakin meningkat sejak April 2024, ketika Iran meluncurkan serangan drone dan rudal besar-besaran ke Israel di tengah perang Israel-Hamas di Gaza. Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan mematikan terhadap konsulat Iran di Damaskus, yang dituding dilakukan Israel. Beberapa bulan kemudian, tepatnya 1 Oktober, Iran kembali menembakkan sekitar 200 rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin Hamas dan Hizbullah.

Retakan di Antara Sekutu: Syarat dan Realitas

Mantan jenderal cadangan Israel Eitan Ben Eliahou menilai perundingan AS-Iran bisa menghasilkan kesepakatan, namun hanya jika Iran menghentikan program nuklir militernya, produksi rudal balistik, serta mengakui hak Israel untuk eksis. “Iran harus secara terbuka menyatakan bahwa mereka meninggalkan niat menghancurkan Israel dan berjanji tidak akan menyerang,” ujarnya kepada situs berita Ynet.

Namun, Zonszein menilai syarat tersebut tidak realistis. “Secara resmi Israel mengatakan menginginkan kesepakatan yang sangat baik, tetapi semua orang tahu Israel menentang JCPOA,” katanya, merujuk pada perjanjian nuklir era Presiden AS Barack Obama. Menurut Zonszein, perbedaan mendasar terletak pada pendekatan. “Israel selalu lebih memilih aksi militer dan kekuatan keras untuk menghadapi Iran, sementara pemerintahan Trump lebih condong ke jalur diplomasi,” ujarnya.

Informasi lebih lanjut mengenai dinamika hubungan AS, Israel, dan Iran ini disampaikan melalui pernyataan resmi para pakar dan pejabat yang dirilis pada berbagai saluran media.