Departemen Perang (DoW) Amerika Serikat resmi mengintegrasikan ChatGPT ke dalam platform kecerdasan buatan generatif militer, GenAI.mil. Langkah strategis ini diumumkan secara resmi oleh pihak kementerian bersama OpenAI pada Senin (9/2/2026) waktu setempat.
ChatGPT akan digunakan oleh sekitar tiga juta personel militer lintas matra, mulai dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Luar Angkasa, hingga Korps Marinir. Integrasi ini bertujuan menjadikan kemampuan AI canggih sebagai standar dalam operasional harian militer AS.
Fungsi dan Keamanan Data Militer
ChatGPT versi khusus ini didesain untuk menjalankan tugas administratif dan teknis guna mendukung efisiensi kerja departemen. Beberapa fungsi utamanya meliputi:
- Meringkas dan menganalisis dokumen kebijakan serta panduan resmi.
- Menyusun dan meninjau materi pengadaan serta kontrak kerja.
- Menghasilkan laporan internal dan daftar pengecekan kepatuhan.
- Mendukung alur kerja penelitian, perencanaan, dan dukungan misi.
OpenAI menegaskan bahwa sistem ini berjalan di infrastruktur cloud pemerintah dengan kontrol keamanan ketat. Data yang diproses di GenAI.mil dipastikan tidak akan digunakan untuk melatih model AI publik maupun komersial guna mencegah kebocoran informasi sensitif.
Bagian dari Proyek Strategis Bernilai Triliunan
Integrasi ini merupakan bagian dari proyek AI mutakhir senilai 200 juta dollar AS atau setara Rp 3,3 triliun. Dana tersebut dialokasikan kepada sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, Google, Anthropic, hingga xAI milik Elon Musk.
ChatGPT menjadi chatbot kedua yang bergabung setelah Gemini milik Google. Dalam waktu dekat, model AI Grok dari xAI juga dijadwalkan akan menyusul masuk ke dalam ekosistem GenAI.mil pada awal tahun 2026 ini untuk memperkuat kapabilitas digital Pentagon.
Informasi lengkap mengenai integrasi teknologi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Departemen Perang AS dan OpenAI yang dirilis pada Februari 2026.
