Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat realisasi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencapai Rp 32,1 triliun hanya dalam kurun waktu satu setengah bulan. Capaian ini menjadi rekor pencairan dana tercepat sepanjang sejarah kementerian dan lembaga di Indonesia yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi daerah.
Rekor Pencairan Anggaran dan Multiplier Effect
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa realisasi dana tersebut memicu pembukaan lapangan kerja baru secara masif. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta pada Jumat (13/2/2026).
“Hari ini BGN sudah mencairkan Rp 32,1 triliun dan belum pernah ada sepanjang sejarah republik ada sebuah kementerian yang mencairkan Rp 32,1 triliun dalam waktu satu setengah bulan,” ujar Dadan.
Dari total dana yang dikucurkan, BGN mengalokasikan sekitar 70 persen untuk pembelian bahan baku pangan. Sementara itu, 20 persen digunakan untuk biaya operasional dan 10 persen sisanya untuk insentif pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program.
Dadan merujuk pada kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang menyebutkan bahwa setiap satu rupiah yang dikeluarkan BGN akan menumbuhkan ekonomi sekitar tujuh kali lipat. Investasi pada nutrisi ini bahkan diprediksi World Bank mampu memberikan imbal hasil hingga 23 kali lipat dalam jangka panjang.
Dampak Signifikan pada Sektor Otomotif dan Tenaga Kerja
Program MBG turut memberikan kontribusi nyata bagi industri otomotif nasional. Berdasarkan data dari Astra Honda Motor (AHM), penjualan sepeda motor mencapai 4,9 juta unit pada 2025, yang sebagian besar terdongkrak oleh kebutuhan operasional dan peningkatan daya beli pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Dari data AHM, angka penjualan motor mencapai 4,9 juta unit pada 2025 dan ini terdongkrak oleh program MBG. Kenapa? Karena saya mendapat laporan, di SPPG itu pegawainya sekarang 60 persen membeli motor,” kata Dadan.
Setiap SPPG rata-rata mempekerjakan 50 tenaga kerja lokal, di mana sekitar 30 orang di antaranya menjadi konsumen baru kendaraan roda dua. Selain itu, dengan target 23.000 SPPG, dibutuhkan sedikitnya 46.000 unit mobil operasional untuk mendukung kelancaran program di seluruh wilayah.
Peningkatan Produktivitas Sektor Pangan dan Peternakan
Sektor usaha pangan dan peternakan juga mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Petani hidroponik melaporkan kenaikan omzet hingga 100 persen, sementara peternak sapi perah di wilayah Boyolali dan Bandung mulai meningkatkan produksi susu pasteurisasi serta membangun fasilitas cold storage.
Kebutuhan bahan pangan per SPPG mencakup:
- 450 liter susu per hari.
- 3.000 butir telur per hari (membutuhkan sekitar 4.000 ekor ayam).
- 3.000 buah pisang per kali penyajian.
- 3.000 ekor lele per kali penyajian (setara dua kolam bioflok).
Dadan menegaskan bahwa program ini juga berhasil meningkatkan kesejahteraan produsen lokal. Hal ini dibuktikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang kini menyentuh angka 125.
“Nilai Tukar Petani sudah naik menjadi 125, dan saya yakin program Makan Bergizi Gratis berkontribusi signifikan,” pungkasnya.
Informasi mengenai realisasi anggaran dan dampak ekonomi program ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kepala Badan Gizi Nasional dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026.
