Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal IV 2025 mencatatkan surplus sebesar 6,1 miliar dollar AS. Capaian ini menunjukkan pemulihan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang sempat mengalami defisit sebesar 6,4 miliar dollar AS, meski angka surplus ini lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu sebesar 7,9 miliar dollar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa surplus NPI ini didorong oleh kinerja transaksi modal dan finansial yang kuat. Hal tersebut dinilai mampu menopang ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Dinamika Transaksi Berjalan
Pada kuartal IV 2025, transaksi berjalan mencatatkan defisit sebesar 2,5 miliar dollar AS. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal sebelumnya yang sempat membukukan surplus sebesar 4 miliar dollar AS. Meski demikian, BI menilai level defisit ini masih berada dalam kategori rendah.
Rendahnya defisit transaksi berjalan ditopang oleh beberapa faktor utama:
- Surplus Neraca Perdagangan Barang: Tetap terjaga meski surplus nonmigas sedikit menurun.
- Neraca Perdagangan Migas: Mengalami peningkatan defisit.
- Neraca Jasa: Defisit melebar akibat penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
- Pendapatan Primer: Defisit meningkat karena kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun.
- Pendapatan Sekunder: Mengalami kenaikan surplus yang dipengaruhi oleh peningkatan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Surplus Transaksi Modal dan Finansial
Sektor transaksi modal dan finansial mencatatkan kinerja positif dengan surplus mencapai 8,3 miliar dollar AS. Angka ini berbalik signifikan dari posisi kuartal sebelumnya yang mengalami defisit sebesar 8 miliar dollar AS. Peningkatan ini dipicu oleh aliran masuk modal asing di berbagai instrumen.
Investasi langsung tetap mencatatkan surplus, yang menurut BI mencerminkan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan iklim investasi domestik. Selain itu, investasi portofolio juga membukukan surplus seiring dengan imbal hasil investasi yang tetap kompetitif bagi investor global.
“Investasi lainnya juga mencatat surplus yang dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri,” tambah Ramdan dalam keterangan resminya.
Proyeksi Ekonomi Tahun 2026
Untuk keseluruhan tahun 2026, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja NPI akan tetap terjaga dengan baik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah dalam kisaran 0,1 persen hingga 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
BI berkomitmen untuk terus mencermati dinamika ekonomi global yang berpotensi memengaruhi prospek NPI ke depan. Langkah ini akan didukung oleh penguatan respons bauran kebijakan serta sinergi erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkokoh ketahanan eksternal Indonesia.
Informasi lengkap mengenai kinerja Neraca Pembayaran Indonesia ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bank Indonesia yang dirilis pada Jumat, 20 Februari 2026.
