PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memberikan tanggapan resmi terkait keputusan lembaga pemeringkat global, Moody’s Ratings, yang menurunkan outlook kredit perseroan dari stabil menjadi negatif. Penilaian ini dipandang sebagai evaluasi strategis terhadap dinamika makroekonomi, pergerakan nilai tukar, serta kondisi fundamental perusahaan.
Respons Strategis Bank Mandiri
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan bahwa hasil penilaian Moody’s tersebut menjadi pengingat bagi perseroan untuk terus meningkatkan kinerja. Pihak manajemen berkomitmen untuk melakukan langkah antisipatif guna menghadapi berbagai dinamika eksternal di masa mendatang.
“Hal tersebut turut menjadi pengingat bagi Bank Mandiri untuk mengantisipasi dinamika eksternal guna menjaga fundamental secara berkelanjutan,” ujar Adhika dalam keterangan resmi pada Kamis (12/2/2026).
Ke depan, Bank Mandiri akan memperkuat pengelolaan likuiditas dan permodalan, serta menjaga kualitas pembiayaan. Perseroan juga menegaskan akan tetap disiplin dalam penerapan manajemen risiko yang selaras dengan kebijakan regulator dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Konteks Penurunan Outlook Perbankan Nasional
Perubahan outlook oleh Moody’s tidak hanya menyasar Bank Mandiri. Lembaga tersebut juga merevisi outlook empat bank besar lainnya, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Langkah ini diambil menyusul revisi outlook sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026. Moody’s menegaskan bahwa jika peringkat sovereign Indonesia diturunkan, maka peringkat kelima bank tersebut kemungkinan besar akan mengikuti arah yang sama.
Analisis Moody’s Terhadap Kinerja Mandiri
Meskipun outlook diturunkan, Moody’s menilai Bank Mandiri masih memiliki permodalan, pendanaan, dan profitabilitas yang baik secara individual. Namun, terdapat beberapa poin yang menjadi sorotan utama lembaga pemeringkat tersebut:
- Penurunan buffer modal perseroan.
- Risiko kredit yang muncul dari pertumbuhan kredit yang agresif sebelumnya.
- Tingginya eksposur pada sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi lainnya.
Rasio permodalan Bank Mandiri diperkirakan akan berada di kisaran 14,5 hingga 15 persen pada tahun 2026. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan dividen yang tinggi serta proyeksi pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko sebesar 10 persen.
Informasi lengkap mengenai penyesuaian outlook ini disampaikan melalui pengumuman resmi Moody’s Ratings dan pernyataan manajemen Bank Mandiri yang dirilis pada Februari 2026.
