Finansial

Danantara Targetkan Negosiasi Utang Kereta Cepat Whoosh dengan China Rampung Kuartal I 2026

Advertisement

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan proses negosiasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dengan pihak China selesai pada kuartal pertama tahun 2026. Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian terkait struktur pembiayaan dan beban investasi proyek strategis nasional tersebut.

Target Penyelesaian dan Koordinasi Pemerintah

COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa jadwal pasti dimulainya negosiasi masih menunggu koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Meski demikian, ia memastikan bahwa proses tersebut tidak akan melampaui periode tiga bulan pertama tahun ini.

“(Jadwal negosiasi utang Whoosh) nanti kita tunggu Pak Menko. Tapi enggak usah khawatir, Kuartal I selesai,” ujar Dony saat memberikan keterangan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Pihak Danantara juga terus menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Keuangan guna membahas skema pembayaran. Fokus utama diskusi tersebut adalah rencana penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutupi sekitar 50 persen dari kewajiban utang Kereta Cepat Whoosh.

Struktur Investasi dan Beban Utang

Dony Oskaria menekankan bahwa secara operasional, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) memiliki kemampuan untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kinerja operasional, melainkan pada struktur investasi awal yang dinilai terlalu kecil.

“Sebenarnya kan sudah selesai bahwa proses itu akan diselesaikan. Dia (Whoosh) memberikan dampak ekonomi, secara operasional mereka mampu untuk sustain. Masalahnya kan hanya di investasi kita yang kekecilan sehingga utangnya menjadi besar waktu pembangunan,” ungkap Dony.

Advertisement

Berdasarkan data teknis, total utang proyek Whoosh mencapai angka 7,27 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 120,38 triliun (asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS). Berikut adalah rincian beban pinjaman tersebut:

  • Pinjaman utama dari China Development Bank (CDB) mencakup 75 persen total biaya dengan bunga 2 persen per tahun dan tenor 40 tahun.
  • Terdapat pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS dengan tingkat bunga di atas 3 persen per tahun.
  • Pinjaman tambahan sebesar 542,7 juta dollar AS digunakan untuk menutup 75 persen porsi tanggung jawab konsorsium Indonesia atas pembengkakan biaya tersebut.

Kinerja Keuangan Konsorsium BUMN

Di sisi lain, bisnis Kereta Cepat Whoosh masih menghadapi tantangan finansial sejak mulai beroperasi pada 17 Oktober 2023. PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI), sebagai entitas anak KAI yang menaungi proyek ini, mencatatkan kerugian signifikan dalam laporan keuangan terbaru.

Hingga 30 Juni 2025 (unaudited), PT PSBI tercatat mengalami kerugian sebesar Rp 4,195 triliun sepanjang tahun buku 2024. Jika dikalkulasi secara harian, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung beban kerugian dari operasional KCIC sekitar Rp 11,493 miliar per hari.

Informasi lengkap mengenai target penyelesaian negosiasi utang ini disampaikan melalui pernyataan resmi manajemen Danantara dalam pertemuan terbatas dengan media di Jakarta pada pertengahan Februari 2026.

Advertisement