Finansial

Diana Kalera Ungkap Pentingnya Menenun Sebagai Identitas Perempuan Sumba di BCA Expoversary

Advertisement

Diana Kalera Lena, seorang penenun asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, menegaskan bahwa menenun merupakan identitas mendalam bagi perempuan di tanah kelahirannya. Dalam bincang-bincang di mini studio BCA Expoversary 2026 di Tangerang, Diana menyebut keterampilan ini sebagai tanggung jawab budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat Sumba, sehelai kain tenun menyimpan nilai budaya, status sosial, hingga kebanggaan keluarga. Diana menceritakan bahwa dirinya telah membantu sang ibu menyiapkan benang sejak usia enam tahun dan mulai menenun secara mandiri pada usia 17 tahun.

Menenun Sebagai Napas Kehidupan

Di tanah kelahirannya, suara alat tenun menjadi irama yang menemani pertumbuhan anak-anak perempuan menuju kedewasaan. Proses panjang mulai dari menggulung benang, mengikat motif, hingga meracik warna dijalani dengan kesabaran tinggi.

“Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” ujar Diana Kalera Lena.

Ucapannya tersebut merangkum bagaimana tradisi menenun telah menyatu dengan keseharian dan menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri perempuan Sumba.

Program Pelatihan Wastra Warna Alam

Komitmen pelestarian warisan leluhur ini mendapat dukungan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA. Berkolaborasi dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), program ini membina 50 penenun dari empat komunitas utama di Sumba, yakni:

  • Kambatatana
  • Wukukalara
  • Kawangu
  • Prai Kilimbatu

Peserta pelatihan didominasi oleh perempuan berusia 25 hingga 45 tahun. Sementara itu, kaum laki-laki turut mendukung ekosistem ini, terutama dalam pengembangan motif dan pengolahan bahan pewarna alami.

Advertisement

Transformasi Menuju Pewarna Alami

Salah satu fokus utama pelatihan adalah edukasi mengenai pewarna alami yang selama ini kurang terdokumentasi secara rapi. Diana, yang juga menggerakkan 13 perempuan dari desanya untuk bergabung, mengungkapkan bahwa sebelumnya banyak penenun bergantung pada pewarna sintetis.

Melalui program Bakti BCA, para pengrajin diajarkan teknik ekstraksi warna dari bahan alam secara lebih terstruktur. Hal ini bertujuan untuk memperkuat identitas wastra Sumba sekaligus menerapkan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan

Selain aspek budaya, menenun kini menjadi pilar ekonomi bagi keluarga di Sumba. Diana merasakan langsung manfaat finansial yang membantu membiayai pendidikan anak-anaknya serta mendukung pendapatan rumah tangga.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan bahwa program pembinaan ini bertujuan memberikan dampak berkelanjutan bagi komunitas. Hera menekankan pentingnya dukungan agar keahlian penenun tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Melalui program pembinaan ini, kami ingin memastikan keahlian para penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern,” kata Hera.

Informasi mengenai inisiatif pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi ini disampaikan melalui pernyataan resmi perwakilan BCA dalam rangkaian acara BCA Expoversary 2026.

Advertisement