Islami

Donald Trump Gandeng Iran dalam Perundingan Nuklir Meski Benjamin Netanyahu Ajukan Syarat Ketat

Advertisement

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap negaranya untuk tidak tunduk pada agresi Amerika Serikat dalam peringatan 47 tahun Revolusi Iran di Teheran, Rabu (11/2/2026). Di tengah gema lagu revolusi, Pezeshkian menyatakan kesiapan untuk memverifikasi program nuklir damai mereka, sementara Presiden AS Donald Trump tetap membuka jalur diplomasi meski ketegangan militer di kawasan Timur Tengah terus meningkat.

Ketegangan Domestik dan Sikap Resmi Teheran

Perayaan hari lahir republik di Lapangan Azadi tahun ini berlangsung dalam suasana genting. Meski pemerintah merayakan pencapaian revolusi 1979, sejumlah video di media sosial menunjukkan aksi protes warga yang meneriakkan slogan anti-pemerintah dari balkon apartemen di beberapa sudut kota Teheran. Aparat keamanan dilaporkan memperketat pengawasan guna meredam gejolak tersebut.

Di atas panggung utama, Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan dari Washington. Ia menekankan bahwa program atom Iran sepenuhnya bertujuan damai dan terbuka untuk diverifikasi oleh inspektur internasional. Pezeshkian juga menyatakan bahwa pihaknya tetap membuka pintu dialog demi menjaga ketenangan dan perdamaian di kawasan.

Eskalasi Militer dan Jalur Diplomasi Trump

Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump belum menutup kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Setelah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln, Trump kini mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah. Ketegangan ini diperkuat dengan laporan penembakan drone yang mendekati armada AS serta bantuan terhadap kapal berbendera AS di Selat Hormuz.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa pembicaraan harus terus berlanjut untuk melihat peluang kesepakatan. “Jika bisa, itu pilihan yang saya utamakan,” tulis Trump. Namun, ia juga mengingatkan kegagalan perundingan sebelumnya yang berujung pada serangan AS terhadap situs nuklir Iran dalam konflik 12 hari pada Juni lalu.

Lobi Israel dan Syarat Keamanan Regional

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026). Dalam pertemuan tertutup tersebut, Netanyahu menekankan bahwa setiap negosiasi nuklir harus mencakup pembatasan program rudal balistik Iran dan penghentian dukungan terhadap sekutu regional seperti Hizbullah.

Advertisement

Israel memandang kemampuan rudal berdaya jelajah tinggi milik Iran sebagai ancaman eksistensial. Pihak Israel secara konsisten menolak kesepakatan yang hanya membatasi pengayaan uranium tanpa menyentuh aspek persenjataan lainnya yang dapat menjangkau wilayah mereka.

Peran Mediasi dan Peluang Kesepakatan Baru

Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan memberikan pandangan berbeda terkait perluasan poin perundingan. Menurutnya, memaksakan pembatasan rudal balistik justru berisiko memicu perang baru. Fidan menilai positif kesediaan Amerika Serikat untuk menoleransi pengayaan uranium Iran dalam batas-batas tertentu yang disepakati secara jelas.

Diplomat AS dan Iran dilaporkan telah menggelar pembicaraan melalui mediasi Oman untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi. Fidan meyakini bahwa Teheran memiliki keinginan sungguh-sungguh untuk mencapai kesepakatan nyata, termasuk menerima rezim inspeksi yang ketat sebagaimana yang pernah diatur dalam perjanjian tahun 2015.

Informasi lengkap mengenai perkembangan hubungan diplomatik ini merujuk pada laporan resmi DW Indonesia dan pernyataan para pemimpin negara yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement