Sebuah unggahan di media sosial Instagram yang menceritakan kematian seseorang setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar di restoran All You Can Eat (AYCE) menjadi sorotan publik. Korban dilaporkan menghabiskan porsi makanan dalam jumlah sangat banyak dalam waktu 90 menit sebelum akhirnya mengalami keluhan medis yang berujung fatal.
Berdasarkan kronologi yang dibagikan akun @dok******* pada Sabtu (7/2/2026), korban sempat mendatangi tiga rumah sakit berbeda dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Meski sempat diberikan obat dan infus, kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya kolaps total dan berhenti bernapas di dalam mobil.
Mengenal Kondisi Dilatasi Akut Lambung
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa fenomena medis tersebut dikenal sebagai dilatasi akut lambung. Menurutnya, kondisi ini terjadi ketika lambung dipaksa menerima makanan jauh melampaui kapasitas normalnya.
“Secara langsung memang kondisi yang kita sebut dilatasi akut lambung itu tidak menyebabkan kematian,” ujar Ari pada Minggu (8/2/2026). Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini memicu ketidaknyamanan berat dan risiko komplikasi organ lainnya.
Ari menjelaskan bahwa jika pasien tidak bisa memuntahkan makanan yang berlebih, lambung akan mendorong ke arah atas. Hal ini memberikan tekanan pada diafragma yang kemudian menyebabkan sesak napas. Selain itu, tekanan berlebih dapat mengakibatkan iskemik atau kekurangan oksigen pada jaringan lambung yang berisiko pada kebocoran lambung.
Pemicu Serangan Jantung dan Stroke
Selain gangguan pada sistem pencernaan, konsumsi kalori dalam jumlah drastis dalam waktu singkat juga berdampak pada sistem kardiovaskular. Ari menegaskan bahwa kerja jantung akan menjadi jauh lebih berat untuk memproses lonjakan tersebut.
“Jika seseorang memiliki masalah jantung atau gangguan pembuluh darah otak, kondisi ini bisa mencetuskan stroke atau serangan jantung dalam waktu singkat,” jelasnya. Kapasitas lambung yang terbatas tidak boleh dipaksa, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit penyerta.
Prosedur Penanganan Darurat
Dilatasi akut lambung dikategorikan sebagai kondisi darurat medis (emergency). Ari menjelaskan bahwa penanganan utama untuk meredakan tekanan pada lambung adalah dengan pemasangan alat medis khusus.
“Tindakan yang dilakukan apabila kondisi itu terjadi pada seseorang maka harus dipasang nasogastric atau selang melalui hidung,” ungkap Ari. Prosedur ini bertujuan untuk mengeluarkan isi lambung atau gas guna mengurangi tekanan internal yang membahayakan nyawa.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan konsep makan sepuasnya sebagai alasan untuk mengabaikan batasan tubuh. Beban berlebih pada saluran pencernaan dalam waktu singkat dapat memicu berbagai komplikasi serius yang mengancam keselamatan jiwa.
Informasi mengenai risiko kesehatan terkait pola makan berlebihan ini disampaikan berdasarkan penjelasan medis Dr. Ari Fahrial Syam menanggapi isu populer di masyarakat.
