Finansial

Efek Berantai Makan Bergizi Gratis: Dari Penjualan 46 Ribu Mobil Hingga Kenaikan NTP Petani

Advertisement

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dilaporkan memberikan dampak ekonomi luas melampaui sektor pangan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut program ini turut memicu lonjakan permintaan di sektor otomotif hingga peningkatan kesejahteraan petani di berbagai daerah.

Dampak Signifikan pada Sektor Otomotif

Dadan menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi yang tumbuh dari pelaksanaan MBG berimbas langsung pada konsumsi masyarakat, khususnya para pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI/AHM), angka penjualan motor mencapai 4,9 juta unit pada 2025, yang sebagian besar terdongkrak oleh kebutuhan mobilitas pegawai program ini.

“Dari data AHM, angka penjualan motor mencapai 4,9 juta unit pada 2025 dan ini terdongkrak oleh program MBG. Karena saya mendapat laporan, di SPPG itu pegawainya sekarang 60 persen membeli motor,” ujar Dadan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Selain kendaraan roda dua, kebutuhan kendaraan operasional untuk 23.000 SPPG di seluruh Indonesia mencapai 46.000 unit mobil. Dadan mencatat bahwa setiap satuan pelayanan setidaknya membutuhkan dua unit mobil operasional untuk mendukung kelancaran distribusi gizi, meskipun ketersediaan unit tersebut kini mulai terbatas di pasaran.

Revitalisasi Sektor Pertanian dan Pangan

Sektor pertanian dan pangan juga mengalami pertumbuhan pesat. Petani hidroponik mencatatkan lonjakan omzet hingga 100 persen sejak bergabung dalam rantai pasok MBG. Selain itu, industri pengolahan pangan seperti tahu dan susu kembali bergairah setelah sempat mengalami penurunan produksi.

Setiap SPPG membutuhkan sekitar 450 liter susu per hari, yang mendorong investasi besar di sektor peternakan sapi perah. Di wilayah Boyolali dan Bandung, para peternak mulai membangun fasilitas cold storage dan memproduksi susu pasteurisasi untuk memenuhi standar kebutuhan program nasional ini.

Advertisement

Kebutuhan Logistik dan Skala Produksi Pangan

Program ini menciptakan permintaan bahan pangan dalam skala masif yang berdampak pada ekosistem perkebunan dan perikanan. Berikut adalah rincian kebutuhan rata-rata per SPPG untuk mendukung program ini:

  • Pisang: Dibutuhkan 3.000 buah per kali makan, yang setara dengan hasil dari 1,5 hektare kebun pisang per tahun.
  • Ikan Lele: Dibutuhkan 3.000 ekor per penyajian, yang memerlukan pengelolaan sekitar 32 kolam bioflok.
  • Telur Ayam: Dibutuhkan 3.000 butir, yang memerlukan populasi sekitar 4.000 ekor ayam petelur atau empat kandang besar.

Kebutuhan pakan untuk ternak ayam juga memicu peningkatan produksi jagung nasional, menciptakan efek berantai yang menguntungkan sektor tanaman pangan secara keseluruhan.

Peningkatan Anggaran dan Kesejahteraan Petani

Dampak ekonomi ini tercermin pada kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang kini menyentuh angka 125. Dadan meyakini kontribusi utama kenaikan ini berasal dari serapan produk pertanian oleh program MBG yang konsisten dan berskala besar di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintah pun telah menyiapkan dukungan finansial yang signifikan untuk keberlanjutan program. Setelah mengalokasikan Rp 71 triliun pada 2025, anggaran MBG direncanakan meningkat tajam menjadi Rp 335 triliun pada Tahun Anggaran 2026 guna memperluas jangkauan penerima manfaat dan memperkuat ekosistem pendukungnya.

Informasi lengkap mengenai perkembangan dampak ekonomi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kepala Badan Gizi Nasional dalam forum ekonomi tahunan yang berlangsung di Jakarta.

Advertisement