Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla yang menyandang status orang terkaya di dunia, menyatakan bahwa kekayaan melimpah tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Melalui unggahan di akun media sosial X miliknya pada Kamis (5/2/2026), Musk menegaskan pandangannya mengenai batasan materi dalam memberikan kepuasan batin.
Dalam unggahan yang disertai emoji sedih tersebut, Musk menuliskan bahwa mereka yang menganggap uang tidak bisa membeli kebahagiaan adalah orang-orang yang memahami realitas sebenarnya. “Siapa pun yang mengatakan ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan,” tulis Musk melalui akun @elonmusk.
Respons Beragam dari Pengguna Media Sosial
Unggahan tersebut memicu perdebatan luas di jagat maya dan telah ditonton lebih dari 30 juta kali. Berbagai reaksi muncul dari para pengguna media sosial, mulai dari yang mendukung hingga yang melontarkan kritik tajam terhadap pernyataan sang miliarder.
- Kelompok Setuju: Sebagian pengguna menilai uang hanyalah sekadar angka jika tidak digunakan untuk tujuan yang luar biasa.
- Kelompok Kontra: Beberapa netizen menyebut pernyataan Musk sebagai kebohongan dan menyatakan bahwa tambahan uang akan membuat hidup mereka lebih bahagia.
- Kritik dan Sindiran: Sejumlah pengguna menyindir kekayaan Musk dengan meminta bantuan finansial atau mempertanyakan harapan hidup orang biasa jika seorang miliarder saja merasa tidak bahagia.
Analisis Sosiologi dan Penelitian Kesejahteraan
Menanggapi fenomena ini, Profesor madya sosiologi dari University of Leicester, David Bartram, menjelaskan bahwa hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh prinsip diminishing returns atau manfaat yang kian menurun. Menurutnya, setelah seseorang memiliki jumlah uang tertentu, tambahan kekayaan tidak lagi memberikan dampak signifikan terhadap kebahagiaan.
Bartram menambahkan bahwa bagi kelompok sangat kaya, kebahagiaan lebih mungkin dicapai melalui perasaan telah berkontribusi positif bagi dunia.
“Kebahagiaan kemungkinan paling baik dicapai dengan memiliki perasaan bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang baik bagi dunia, dan bahwa Anda memperlakukan orang-orang di sekitar Anda dengan kepedulian dan kebaikan,”
jelas Bartram.
Di sisi lain, penelitian tahun 2021 oleh Matthew Killingsworth dari Wharton School menunjukkan bahwa kesejahteraan memang cenderung meningkat seiring kenaikan pendapatan. Namun, jumlah uang yang dibutuhkan untuk merasa bahagia menjadi target yang terus bergerak secara eksponensial, yang kemungkinan besar tetap berlaku bagi para miliarder.
Detail Kekayaan dan Prinsip Kontribusi Elon Musk
Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Elon Musk saat ini mencapai 668 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 11,2 kuadriliun. Nilai kekayaan ini melonjak sebesar 49 miliar dollar AS sejak awal tahun, yang didorong oleh valuasi tinggi SpaceX serta rencana merger dengan startup AI miliknya, xAI.
Dalam sebuah diskusi di podcast “People by WTF” bersama Nikhil Kamath, Musk sempat mengungkapkan bahwa kunci kebahagiaan adalah menjadi kontributor yang tulus bagi masyarakat. Ia menyarankan agar seseorang fokus pada penciptaan produk dan layanan yang berguna daripada mengejar uang secara langsung.
Informasi mengenai pernyataan dan pandangan Elon Musk ini dirangkum dari unggahan resmi di akun media sosial X serta laporan Business Insider dan Times of India yang dirilis pada Februari 2026.
