Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi Kementerian Sosial kini memasuki tahap evaluasi menyeluruh setelah menyelesaikan satu semester perdana pada Februari 2026. Langkah ini diambil guna memastikan efektivitas program dalam memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan yang lebih terarah dan inklusif.
Urgensi Evaluasi dan Fokus Sasaran Sekolah Rakyat
Sebagai garda terdepan dalam pengentasan kemiskinan, Sekolah Rakyat memikul beban strategis yang memerlukan perencanaan jangka pendek maupun panjang. Pemerintah menekankan perlunya titik tuju yang tegas agar seluruh kementerian terkait dapat berkolaborasi secara optimal dalam mendukung program berbiaya besar ini.
Evaluasi ini menyoroti perlunya kebaruan dalam pola implementasi agar tidak mengulang kegagalan program-program sebelumnya. Fokus utama diarahkan pada penciptaan lulusan unggul yang mampu mandiri serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan.
Kewirausahaan sebagai Pilar Pemutus Rantai Kemiskinan
Salah satu poin krusial yang muncul dalam evaluasi adalah penguatan aspek kewirausahaan, baik dari dimensi mentalitas maupun keterampilan. Hal ini sejalan dengan riset David McClelland yang menyatakan bahwa keberhasilan suatu negara ditentukan oleh persentase warga dengan tingkat need of achievement yang tinggi.
Implementasi kewirausahaan di Sekolah Rakyat diharapkan menjadi jalan keluar nyata dalam melawan kemiskinan. Strategi ini menuntut adanya perubahan cara kerja, mengingat upaya mendapatkan hasil berbeda dengan metode lama sering kali dianggap tidak efektif dalam konteks pembangunan sumber daya manusia di era modern.
Transformasi Kurikulum: Menghargai Potensi Lokal dan Bakat Siswa
Kurikulum pendidikan yang selama ini cenderung seragam dari Sabang sampai Merauke dinilai kurang memberikan ruang bagi keberagaman potensi daerah. Sekolah Rakyat didorong untuk menerapkan kurikulum khusus yang bersifat personal guna mengembangkan fitrah bakat dan minat unik setiap siswa sesuai dengan karakteristik wilayahnya.
Negara diharapkan tidak ragu membangun program khusus yang membersamai pengembangan potensi lokal, baik sumber daya alam maupun tradisi budaya. Logika ekonominya, angka kemiskinan akan menurun seiring tumbuhnya pengusaha muda yang mampu memetakan dan mengembangkan kearifan tanah kelahirannya sendiri.
Dua Dimensi Utama: Mindset dan Method
Pembangunan kewirausahaan dalam Sekolah Rakyat mencakup dua dimensi besar, yaitu Mindset (pola pikir) dan Method (kompetensi bisnis). Dimensi mentalitas wajib dijalin berkelindan dengan seluruh mata pelajaran melalui tiga konsep psikologi positif terkini:
- GRIT: Menanamkan ketekunan dan ketangguhan jangka panjang melalui kombinasi passion dan perseverance.
- Growth Mindset: Membangun keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha terus-menerus dan pandangan yang benar terhadap kegagalan.
- Driver Mentality: Transformasi pola pikir dari penumpang yang pasif menjadi pengemudi yang memegang kendali penuh atas arah dan tujuan hidupnya.
Sementara itu, dari sisi metode, siswa dilatih untuk memiliki pola pikir apresiatif dalam mengidentifikasi potensi daerah tanpa harus menunggu sarana pendukung yang sempurna. Pemerintah juga berkomitmen mendorong berbagai pihak untuk membangun ekosistem usaha yang kuat guna memastikan siswa mendapatkan bimbingan dan jaringan yang diperlukan.
Informasi mengenai evaluasi dan pengembangan kurikulum Sekolah Rakyat ini merujuk pada pernyataan resmi Kementerian Sosial terkait peta jalan pendidikan berbasis kewirausahaan tahun 2026.
