Finansial

Fenomena Loveflation: Satu dari Empat Orang Rela Berutang Demi Kencan di Tengah Inflasi Global

Advertisement

Tekanan ekonomi global yang terus meningkat kini mulai mengubah dinamika hubungan romantis melalui fenomena yang disebut sebagai loveflation. Istilah ini merujuk pada kenaikan biaya kencan akibat inflasi yang mendorong individu lajang menggunakan kartu kredit hingga layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater demi membiayai aktivitas sosial mereka. Tren ini mencerminkan pergeseran perilaku finansial di mana keputusan ekonomi semakin dipengaruhi oleh faktor emosional dan keinginan untuk menjaga citra sosial.

Investasi Sosial di Tengah Tekanan Ekonomi

Berdasarkan survei yang dilakukan platform Invoice Home, ditemukan fakta bahwa satu dari empat orang di Amerika Serikat bersedia menanggung utang kartu kredit demi berkencan dengan orang yang mereka sukai. Caleb Silver, Editor-in-Chief Investopedia, menjelaskan bahwa keinginan untuk memberikan kesan positif sering kali mengalahkan logika finansial. Menurutnya, banyak orang ingin menampilkan versi terbaik dari diri mereka, termasuk stabilitas keuangan, meskipun kondisi sebenarnya tidak mendukung gaya hidup tersebut.

Senada dengan hal tersebut, perencana keuangan Shannah Game menyebut bahwa berkencan di era modern sering kali terasa seperti sebuah pertunjukan. Penggunaan kartu kredit memudahkan seseorang untuk menciptakan ilusi kemudahan finansial. Namun, Game memperingatkan bahwa stres finansial akibat utang biasanya bertahan jauh lebih lama daripada kegembiraan dari hubungan baru yang baru saja dimulai.

Ketergantungan Milenial dan Gen Z pada Kredit

Data dari Lending Tree menunjukkan peningkatan ketergantungan terhadap instrumen kredit di kalangan generasi muda. Sebanyak 53 persen milenial dan 41 persen Gen Z mengaku lebih mengandalkan kartu kredit dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kartu kredit kini beralih fungsi dari alat pembayaran darurat menjadi instrumen utama untuk membiayai konsumsi sehari-hari dan gaya hidup sosial.

Matt Schulz, Kepala Analis Kredit di LendingTree, menekankan bahwa uang adalah salah satu sumber stres terbesar dalam hubungan. Utang yang tidak dikelola dengan baik atau tidak dikomunikasikan secara terbuka berisiko menjadi pemicu konflik serius antar pasangan di kemudian hari.

Advertisement

Stabilitas Finansial sebagai Indikator Daya Tarik

Meskipun banyak yang rela berutang untuk mengesankan pasangan, data dari Quicken menunjukkan realitas yang kontradiktif. Sekitar 78 persen responden menyatakan tidak bersedia menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki utang kartu kredit jangka pendek. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas keuangan telah menjadi faktor krusial dalam penilaian calon pasangan di era modern, di mana utang signifikan sering kali dianggap sebagai stigma negatif.

Pertumbuhan Paylater dan Regulasi Ketat OJK di Indonesia

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia dengan pertumbuhan layanan paylater yang sangat pesat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan layanan paylater tumbuh 69,71 persen secara tahunan per Oktober 2025, mencapai angka Rp 10,85 triliun. Untuk mengantisipasi risiko jebakan utang (debt trap), OJK telah memperkuat regulasi terkait penggunaan layanan ini.

Beberapa aturan baru yang ditetapkan OJK antara lain:

  • Batas usia minimal pengguna adalah 18 tahun atau sudah menikah.
  • Memiliki penghasilan minimal sebesar Rp 3 juta per bulan.
  • Peningkatan transparansi biaya dan bunga untuk perlindungan konsumen.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pengguna memiliki kemampuan finansial yang memadai sebelum mengambil kewajiban utang digital. Transparansi keuangan kini dianggap sebagai kunci utama dalam membangun hubungan yang sehat dan stabil secara jangka panjang. Informasi mengenai dinamika ekonomi dan perilaku konsumen ini dirangkum berdasarkan laporan resmi OJK dan hasil survei lembaga keuangan internasional yang dirilis hingga Februari 2026.

Advertisement