Berita

Harga Emas dan Perak Alami Fluktuasi Ekstrem: Sempat Cetak Rekor Tertinggi Lalu Anjlok Tajam

Harga emas dan perak menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, nilai dua logam mulia ini justru merosot tajam sebelum akhirnya pulih sebagian. Lonjakan dan penurunan drastis dalam waktu singkat ini memicu pertanyaan di kalangan investor dan analis pasar.

Faktor Pendorong Lonjakan Harga Emas dan Perak

Emas dan perak dikenal luas sebagai aset lindung nilai atau safe haven, yang cenderung mempertahankan nilainya dalam jangka panjang. Secara historis, logam mulia ini menjadi buruan investor saat kondisi ekonomi dan geopolitik global diliputi ketidakpastian.

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas pasar sepanjang setahun terakhir. Sejumlah kebijakannya, mulai dari kebijakan tarif, tekanan terhadap independensi bank sentral AS (The Federal Reserve), hingga pernyataan kontroversial mengenai wilayah otonom Denmark, Greenland, dinilai menabrak pakem.

Langkah-langkah tersebut menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan dan turut melemahkan nilai tukar dolar AS. Kondisi ini mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan perak.

Sejak pelantikan Trump hingga akhir Januari 2026, harga emas tercatat melonjak hampir dua kali lipat, sementara harga perak mengalami kenaikan yang lebih fantastis, hampir empat kali lipat dari nilai sebelumnya.

Krisis Kepercayaan Ekonomi Global dan Peran Emas

Sejumlah analis menilai lonjakan harga logam mulia juga mencerminkan krisis kepercayaan terhadap sistem ekonomi global. Hal ini terutama terjadi setelah bertahun-tahun mengalami inflasi tinggi dan lonjakan utang negara yang signifikan. Utang nasional Amerika Serikat, misalnya, kini mencapai sekitar 38 triliun dolar AS, menjadikannya yang tertinggi di dunia.

“Di dunia di mana hampir semua aktivitas keuangan mengandung risiko kredit, baik negara, bank sentral, maupun lembaga keuangan, emas adalah satu-satunya aset tanpa pihak lawan,” ujar Diego Franzin, Kepala Strategi Portofolio Plenisfer Investments, seperti dilansir Al Jazeera pada Selasa (3/2/2026).

Menurut Franzin, emas tidak menjanjikan imbal hasil, tidak bergantung pada keputusan politik, dan tidak memiliki risiko gagal bayar. Justru karena karakteristik inilah emas memberikan rasa aman, terutama di tengah sistem ekonomi global yang dibebani utang besar.

Selain itu, permintaan emas juga meningkat seiring dengan pembelian besar-besaran oleh bank sentral negara-negara berkembang, seperti China dan Turkiye. Langkah ini merupakan upaya mereka untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Pada Kamis (29/1/2026) pekan lalu, harga emas sempat menembus rekor hampir 5.595 dolar AS per ons, sementara harga perak mencapai hampir 122 dolar AS per ons.

Penurunan Drastis Harga Logam Mulia

Namun, reli harga tersebut berhenti mendadak. Pada Jumat (20/1/2026), harga emas dan perak masing-masing anjlok sekitar 10 persen dan 28 persen. Penurunan ini berlanjut pada Senin (2/2/2026), dengan emas ditutup melemah sekitar 4,5 persen dan perak turun 6,5 persen.

Pada Selasa (3/2/2026), harga kembali menunjukkan kenaikan terbatas, meskipun masih jauh dari puncaknya. Emas tercatat menguat sekitar 3,5 persen, sementara perak naik sekitar 4,5 persen hingga Selasa pagi waktu GMT.

Analisis Penyebab Kejatuhan Harga

Analis pasar belum mencapai kesepakatan mengenai satu penyebab utama penurunan harga yang tiba-tiba ini. Sebagian menilai faktor Trump kembali berperan, namun kali ini dalam konteks menenangkan pasar.

Pada Jumat lalu, Trump mengumumkan rencananya untuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Warsh dinilai memiliki pandangan yang lebih konvensional dibandingkan kandidat lain yang sempat disebut. Langkah ini disambut positif oleh investor yang sebelumnya khawatir Trump akan menunjuk sosok yang terlalu agresif dalam memangkas suku bunga tanpa mempertimbangkan risiko inflasi.

Selain itu, Trump juga menyatakan optimisme tercapainya kesepakatan dengan Iran, setelah sebelumnya melontarkan ancaman militer. Harapan akan stabilitas ekonomi dan potensi menguatnya dolar AS disebut-sebut mendorong investor untuk melepas aset emas dan perak mereka.

Namun, banyak analis meragukan penjelasan tersebut. Menurut Mark Matthews, Kepala Riset Asia Bank Julius Baer, penurunan harga lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah reli yang terjadi terlalu cepat dan ekstrem.

“Harga logam mulia sudah naik terlalu ekstrem dalam waktu singkat. Begitu aksi ambil untung dimulai, penurunan menjadi tak terbendung,” ujar Matthews.

Prospek Jangka Menengah dan Panjang Logam Mulia

Meskipun sulit untuk memprediksi pergerakan pasar secara pasti, sejumlah analis masih menunjukkan optimisme terhadap prospek logam mulia dalam jangka menengah hingga panjang.

JP Morgan, dalam laporan terbarunya, memproyeksikan harga emas bisa mencapai 6.300 dolar AS per ons pada akhir tahun 2026. Angka ini menunjukkan potensi kenaikan sekitar 30 persen dari level saat ini.

“Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang dinamis dan multifungsi. Permintaan investor terus melampaui ekspektasi kami,” tulis tim analis JP Morgan.

Sementara itu, Mark Matthews dari Bank Julius Baer menilai minat beli investor akan kembali meningkat setelah pasar dianggap lebih stabil. Ia menekankan bahwa dua faktor utama masih tetap ada, yaitu pelemahan dolar AS dan peningkatan pembelian emas oleh bank sentral.

Menurut Matthews, kenaikan harga ke depan mungkin tidak setajam sebelumnya, namun justru akan lebih sehat dan berkelanjutan bagi pasar.

Informasi lengkap mengenai pergerakan harga emas dan perak serta analisis pasar ini dihimpun dari berbagai laporan keuangan dan pernyataan resmi lembaga investasi terkemuka yang dirilis hingga Selasa, 3 Februari 2026.