Finansial

Hemat 20 Persen, Restoran Kebuli Saudi di Medan Ungkap Keuntungan Pakai CNG Dibandingkan LPG

Advertisement

Rumah Makan Kebuli Saudi di Kota Medan, Sumatera Utara, mencatatkan penghematan biaya operasional gas hingga Rp 6,2 juta setiap bulannya setelah beralih menggunakan Compressed Natural Gas (CNG). Langkah efisiensi ini terungkap saat Kepala Badan Pengatur Minyak dan Gas (BPH Migas), Wahyudi Anas, meninjau langsung operasional restoran tersebut pada Jumat (13/2/2026).

Perbandingan Biaya Operasional dan Efisiensi

Pemilik Kebuli Saudi, Deril, menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus mengalokasikan dana sebesar Rp 32,5 juta per bulan jika menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Namun, dengan beralih ke layanan CNG dari PGN, pengeluaran untuk kebutuhan dapur kini hanya mencapai Rp 26 juta per bulan.

“Rp 26 juta itu biaya konsumsi gas untuk satu bulan,” ujar Deril saat ditemui di restorannya. Ia menambahkan bahwa cabang di Medan ini merupakan gerai ketiga, di mana dua cabang sebelumnya yang berlokasi di Batam sudah lebih dulu menerapkan penggunaan CNG.

Dampak pada Harga Jual dan Strategi Bisnis

Efisiensi biaya gas yang mencapai 20 hingga 25 persen ini berdampak langsung pada harga jual produk kepada konsumen. Deril mengaku berani mematok harga nasi kebuli lebih murah sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per porsi dibandingkan dengan kompetitor di kelasnya.

Saat ini, Kebuli Saudi masuk dalam kategori usaha menengah dengan omzet mencapai Rp 2,1 miliar per bulan. Dengan margin pendapatan bersih sekitar 20 persen, restoran ini mampu meraup laba bersih hingga Rp 400 juta per bulan. Meski baru beroperasi satu bulan di Medan, antusiasme pelanggan terlihat tinggi dengan kondisi restoran yang tetap ramai pada hari kerja.

Upaya Menekan Impor LPG Nasional

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, memberikan apresiasi atas langkah Kebuli Saudi yang menggunakan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Penggunaan CNG dinilai membantu negara mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang mencapai 70 persen dari total kebutuhan nasional.

Advertisement

“Apabila menggunakan CNG, ini mengurangi beban impor bahan baku LPG dan menurunkan devisa negara. Ini apresiasi kepada pemilik Rumah Makan Kebuli Saudi,” tutur Wahyudi. Ia menambahkan bahwa harga CNG memang lebih kompetitif dibandingkan LPG non-subsidi, sehingga memberikan penghematan signifikan bagi pelaku usaha.

Jangkauan Layanan PGN di Sumatera Utara

PGN sebagai subholding gas dari PT Pertamina (Persero) terus memperluas distribusi gas melalui jaringan pipa Arun-Belawan sepanjang 350 kilometer. Selain melalui pipa, PGN juga melayani pasokan gas dalam bentuk CNG yang dikompresi pada tabung bertekanan tinggi untuk menjangkau pelanggan komersial.

Hingga tahun 2025, PGN tercatat telah melayani 813.000 rumah tangga serta 5.800 pelanggan komersial dan industri. Khusus di wilayah Regional 1 Sumatera Utara, jumlah pelanggan rumah tangga yang telah terintegrasi dengan jaringan gas PGN mencapai 133.076 pengguna.

Informasi lengkap mengenai efisiensi penggunaan energi dan tinjauan lapangan ini disampaikan melalui pernyataan resmi BPH Migas dalam kunjungan kerja di Medan pada Februari 2026.

Advertisement