Finansial

Heru Sutadi Ungkap Dampak AI Host Live Shopping Terhadap Efisiensi Operasional dan Kepercayaan Konsumen

Advertisement

Fenomena penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai pemandu siaran langsung belanja (live shopping) di platform e-commerce tengah menjadi sorotan publik. Teknologi ini dipandang sebagai terobosan besar dalam dunia pemasaran digital, namun di sisi lain memicu kekhawatiran terkait masa depan tenaga kerja terlatih dan integritas konten di mata konsumen.

Transformasi Produksi dan Efisiensi Operasional

Pengamat Ekonomi Digital sekaligus Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Heru Sutadi, menilai kehadiran host live shopping berbasis AI merupakan bentuk transformasi produksi konten yang jauh lebih efisien. Teknologi ini memungkinkan penggunaan avatar atau manipulasi suara yang mampu tampil seolah-olah berinteraksi secara langsung dengan penonton.

Menurut Heru, beberapa pelaku industri di Indonesia sudah mulai melakukan eksperimen dengan teknologi ini untuk menekan biaya talenta dan produksi. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan untuk melakukan siaran selama 24 jam penuh tanpa henti. Hal ini berdampak pada skalabilitas tinggi dan potensi peningkatan margin keuntungan bagi perusahaan.

“Di Indonesia, sebagian pelaku sudah mulai bereksperimen, terutama untuk menekan biaya talent, produksi, dan memungkinkan siaran 24/7,” ujar Heru. Meski demikian, ia menekankan bahwa adopsi teknologi ini masih dalam tahap uji coba dan belum bisa menggantikan peran manusia sepenuhnya karena keterbatasan dalam aspek interaktivitas.

Tantangan Interaksi dan Kepercayaan Publik

Meskipun unggul dalam konsistensi dan kecepatan respons data, AI dianggap masih memiliki kelemahan dalam membangun kedekatan emosional dengan audiens. Heru menjelaskan bahwa keputusan pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh rasa percaya dan autentisitas. Jika AI terasa kaku, efektivitas pemasaran justru akan menurun.

Risiko lain yang membayangi adalah penurunan kepercayaan jika audiens merasa tertipu atau tidak mendapatkan informasi transparan bahwa konten yang mereka tonton menggunakan teknologi AI. Isu etika, manipulasi visual, hingga potensi pengurangan lapangan kerja menjadi poin krusial yang harus diantisipasi melalui regulasi dan literasi digital.

Advertisement

Prediksi Keberlanjutan Tren AI Host

Berbeda dengan pandangan mengenai efisiensi, Pengamat Bisnis dan Pemasaran, Yuswohady, memproyeksikan bahwa tren host live shopping berbasis AI hanya akan bertahan dalam waktu singkat. Ia memperkirakan fenomena ini hanya akan populer dalam hitungan minggu atau bulan sebelum akhirnya dianggap biasa oleh masyarakat.

Yuswohady menyebutkan bahwa dalam dunia pemasaran, diferensiasi adalah kunci utama. Ketika semua pihak mulai menggunakan teknologi yang sama, nilai kreativitasnya akan menurun dan menjadi komoditas biasa. “Strategi marketing itu intinya diferensiasi. Jadi kalau semuanya bisa, itu jadi biasa, jadi komoditas namanya,” kata Yuswohady.

Risiko Hukum dan Pelanggaran Hak Cipta

Selain masalah tren, penggunaan AI dalam live shopping juga menyimpan risiko hukum yang serius, terutama terkait hak cipta. Yuswohady memperingatkan adanya potensi penyalahgunaan teknologi untuk menciptakan video AI yang menyerupai tokoh publik atau artis tanpa izin demi mempromosikan produk tertentu.

Praktik semacam ini dinilai melanggar hak cipta dan etika industri, meskipun secara teknis mampu menekan pengeluaran promosi perusahaan. Oleh karena itu, transparansi dan pedoman etika industri menjadi sangat penting agar inovasi teknologi tidak menabrak koridor hukum yang berlaku.

Informasi mengenai perkembangan teknologi AI dalam ekosistem e-commerce ini dihimpun berdasarkan keterangan para pakar ekonomi digital dan pemasaran dalam menanggapi fenomena global yang mulai merambah pasar domestik.

Advertisement