IDAI Ungkap Fakta: Kehujanan Bukan Penyebab Langsung Sakit, Ini Pemicu Utama Penyakit di Musim Hujan
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa air hujan bukanlah penyebab langsung seseorang jatuh sakit. Namun, kondisi lingkungan dan penurunan daya tahan tubuh akibat suhu dingin saat kehujanan justru menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama pada anak-anak. Peringatan ini disampaikan dalam media briefing virtual pada Jumat, 30 Januari 2026, menyikapi puncak musim hujan di Indonesia.
Anggapan Kehujanan dan Penjelasan IDAI
Masyarakat kerap mengaitkan kehujanan dengan peningkatan kasus flu, demam, dan batuk pilek. Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, menjelaskan bahwa pemahaman ini sering keliru. “Air hujan itu sendiri tidak menyebabkan sakit. Namun, kehujanan dapat meningkatkan risiko karena suhu dingin bisa menurunkan daya tahan tubuh,” ujar Prof. Anggraini.
Dalam kondisi daya tahan tubuh yang melemah, virus dan bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan menjadi lebih mudah menyerang. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat potensi banjir di berbagai wilayah Indonesia yang menyertai puncak musim hujan.
Peran Kelembapan dan Polusi Lingkungan
Prof. Anggraini menambahkan, kelembapan udara yang tinggi, berkisar antara 70 hingga 90 persen, serta genangan air, menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri, virus, dan parasit. Kondisi ini diperparah oleh perubahan suhu drastis yang sering terjadi saat hujan deras berkepanjangan, khususnya di daerah rawan banjir. “Meski hujan tidak secara langsung menyebabkan penyakit, situasi ini mempermudah penyebaran kuman, menurunkan imunitas, dan meningkatkan paparan terhadap air serta permukaan yang terkontaminasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perbedaan kualitas air hujan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, polutan dari aktivitas manusia dapat terbawa air hujan. “Zat kimia dalam air hujan di perkotaan memang perlu diwaspadai. Polusi itu berasal dari aktivitas manusia sendiri,” kata Prof. Anggraini. Waktu turunnya hujan, baik pagi, siang, maupun malam, juga dapat memengaruhi konsentrasi polutan yang terkandung dalam air hujan.
Langkah Penanganan Setelah Kehujanan
IDAI menekankan pentingnya tindakan cepat dan tepat jika anak terpaksa kehujanan. “Kalau anak terlanjur kehujanan di jalan, yang utama adalah segera menghangatkan tubuh, mengganti pakaian, dan membersihkan diri,” saran Prof. Anggraini. Ia menganjurkan anak segera mencuci tangan, melepas pakaian basah, dan menggantinya dengan pakaian bersih serta hangat.
Mandi air hangat sangat dianjurkan, terutama jika anak melewati genangan air lumpur atau banjir, untuk membantu membersihkan kuman dan menyegarkan tubuh. Menjawab keraguan orang tua, Prof. Anggraini menegaskan bahwa anak boleh langsung mandi setelah kehujanan. “Boleh saja langsung mandi, apalagi dengan air hangat. Justru itu membantu menghilangkan kotoran dan polutan yang menempel di tubuh,” terangnya.
Namun, ia mengingatkan agar pakaian yang basah tidak digunakan kembali sebelum dicuci bersih. “Kalau bajunya tidak diganti, itu sama saja bohong,” tegasnya. Dengan curah hujan yang masih tinggi dan potensi banjir, IDAI mengimbau orang tua untuk sigap menjaga kebersihan, memastikan asupan gizi anak, dan segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala sakit. Kewaspadaan dini menjadi kunci untuk mencegah lonjakan penyakit pada anak selama musim hujan.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui media briefing virtual Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang diselenggarakan pada Jumat, 30 Januari 2026.