Islami

Iran Gelar Latihan Perang di Selat Hormuz Saat Delegasi Tiba di Jenewa untuk Dialog dengan AS

Advertisement

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memulai serangkaian latihan militer di Selat Hormuz pada Senin (16/2/2026) sebagai langkah persiapan menghadapi potensi ancaman keamanan. Momentum ini bertepatan dengan rencana dimulainya putaran baru pembicaraan antara Teheran dan Washington di Jenewa pada Selasa (17/2/2026).

Kesiapan Tempur di Jalur Strategis Selat Hormuz

Latihan perang yang diawasi langsung oleh Kepala IRGC, Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan meningkatkan kemampuan reaksi cepat pasukan. Langkah ini diambil menyusul pengerahan kekuatan angkatan laut Amerika Serikat secara besar-besaran ke wilayah tersebut untuk menekan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur air vital yang menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen produksi minyak dunia. Politisi garis keras Iran sebelumnya telah berulang kali mengancam akan memblokir jalur strategis ini sebagai respons atas tekanan militer dan ekonomi dari pihak asing.

Respons Terhadap Pengerahan Armada Angkatan Laut AS

Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perang pengawal ke kawasan Teluk sejak Januari lalu. Trump juga menyatakan bahwa kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, akan segera menyusul ke Timur Tengah guna memperkuat posisi tawar AS dalam negosiasi.

Ketegangan ini menjadi latar belakang pertemuan kedua negara setelah diplomasi sempat terhenti sejak Juni lalu akibat konflik Iran-Israel. Sebelumnya, kedua pihak telah menjalin diskusi awal pada 6 Februari di Oman sebagai upaya membuka kembali jalur komunikasi.

Advertisement

Diplomasi Nuklir dan Pertemuan di Jenewa

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah tiba di Jenewa untuk memimpin delegasi diplomatik dalam putaran kedua negosiasi nuklir. Selain bertemu dengan perwakilan AS, Araghchi dijadwalkan melakukan diskusi teknis mendalam dengan Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi.

Dalam kunjungannya, Araghchi juga akan mengadakan pembicaraan dengan rekan-rekan diplomatik dari Swiss dan Oman. Ia menegaskan bahwa Iran membawa proposal konkret namun tetap mempertahankan kedaulatan nasionalnya di tengah tekanan militer yang meningkat.

“Saya berada di Jenewa dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam agenda adalah penyerahan diri di hadapan ancaman,” tegas Araghchi.

Informasi mengenai perkembangan situasi keamanan dan diplomasi ini dihimpun dari laporan resmi kantor berita IRIB dan pernyataan otoritas terkait pada Selasa (17/2/2026).

Advertisement