Isu Generasi Sigma Viral di Medsos: Psikolog Tegaskan Tidak Valid Ilmiah, Generasi Beta Resmi Setelah Alpha
Perbincangan mengenai istilah “Generasi Sigma” tengah ramai di media sosial, menyusul unggahan yang menyebut bayi lahir mulai tahun 2026 sebagai bagian dari generasi baru. Namun, Psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id menegaskan bahwa istilah tersebut tidak valid secara ilmiah dan hanya merupakan tren internet.
Viralnya Istilah Generasi Sigma di Media Sosial
Diskursus mengenai Generasi Sigma mencuat setelah sebuah unggahan dari akun @folkat*** pada Selasa, 27 Januari 2026. Unggahan tersebut mengklaim bahwa bayi yang lahir mulai tahun 2026 akan menjadi bagian dari generasi baru setelah Generasi Alpha, yang dinamai Generasi Sigma.
Generasi Sigma digambarkan sebagai kelompok anak yang diasosiasikan dengan perubahan dan kemampuan beradaptasi, tumbuh dengan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari. Mereka diproyeksikan menjalani sistem pembelajaran berbasis digital, menghadapi dinamika baru dalam struktur keluarga, serta hidup di tengah tantangan perubahan lingkungan.
Narasi yang beredar juga menyebutkan, anak-anak Generasi Sigma diyakini akan terbiasa dengan model belajar terpadu antara daring dan luring, menjunjung tinggi kemandirian, serta memandang teknologi seperti tutor AI dan pemantauan kesehatan digital sebagai kebutuhan harian. Namun, wacana ini menuai tanda tanya dari warganet. “Kemarin bukannya 2025 beta? Kok cepat banget sudah ganti generasi,” tulis akun @marthapu***. Senada, akun @sallythutaga*** mempertanyakan, “Bukannya Generasi Beta baru mulai di tahun 2025 ya? Kok bisa 2026 jadi Generasi Sigma, wkwk.”
Penjelasan Psikolog: Generasi Sigma Tidak Berdasar Ilmiah
Menanggapi fenomena ini, Psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id menegaskan bahwa istilah Generasi Sigma memang sedang viral, namun tidak bisa disamakan dengan konsep generasi dalam sosiologi. “Istilah Generasi Sigma memang sedang ramai diperbincangkan di media sosial, terutama TikTok dan YouTube. Namun, ada perbedaan besar antara tren internet dan sosiologi formal,” jelas Danti kepada Kompas.com pada Kamis, 29 Januari 2026.
Danti mengingatkan publik agar tidak serta-merta menganggap istilah viral sebagai kebenaran ilmiah. “Fenomena ini perlu dibedah secara kritis agar kita tidak terjebak dalam arus meme,” ujarnya. Ia secara tegas menyatakan, “Secara singkat jawabannya tidak. Generasi Sigma tidak valid secara ilmiah.”
Menurut Danti, dalam kajian demografi dan sosiologi, penamaan generasi memiliki pola yang jelas dan baku. Setelah Generasi Alpha, para ahli telah menetapkan Generasi Beta sebagai generasi berikutnya. “Dalam studi sosiologi, urutan penamaan generasi mengikuti abjad Yunani. Setelah Generasi Alpha, generasi berikutnya secara resmi disebut Generasi Beta,” kata Danti.
Asal Mula Istilah Sigma: Dari Meme Internet, Bukan Kajian Akademik
Danti lebih lanjut menjelaskan bahwa makna kata “sigma” yang beredar saat ini kuat dipengaruhi oleh budaya populer di internet. “Tidak ada dasar akademik yang menggunakan istilah sigma dalam konteks generasi,” jelasnya. Ia menyebut istilah ini berakar dari konsep Sigma Male yang populer di media sosial, yang merujuk pada sosok mandiri, sukses, namun menyendiri.
Penolakan terhadap istilah Generasi Beta, menurut Danti, lebih karena konotasi bahasa gaul. “Kata beta sering dipakai sebagai ejekan, sehingga banyak netizen ingin menggantinya dengan istilah yang terdengar lebih kuat,” tambahnya.
Imbauan Psikolog: Bijak Menyikapi Label Generasi
Danti mengimbau orang tua dan media agar tidak terjebak dalam pelabelan generasi yang keliru. “Tidak semua istilah yang viral di TikTok adalah terminologi ilmiah. Generasi Sigma saat ini hanyalah slang internet,” katanya. Ia menekankan bahwa fokus seharusnya diarahkan pada tantangan nyata yang akan dihadapi anak-anak di masa depan.
“Daripada memberi label Sigma, lebih baik kita fokus pada isu nyata seperti integrasi AI dan perubahan iklim,” ujar Danti. Ia menambahkan bahwa label generasi bukanlah penentu nasib individu. “Nama generasi hanyalah alat bantu sosiologis, bukan ramalan kepribadian atau masa depan anak,” tutupnya.
Informasi lengkap mengenai validitas istilah generasi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026.