Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di posisi undervalued belum memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Economic Outlook 2026 pada Jumat (20/2/2026), menanggapi fluktuasi mata uang garuda yang dipengaruhi oleh sentimen global.
Kondisi Fundamental Ekonomi Domestik
Josua menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan oleh masyarakat. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen pada Kuartal IV 2025, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa pada level memadai.
“Urgensinya untuk kita panik itu tidak ada sama sekali. Apalagi kalau memang kita tidak terpapar risiko nilai tukar,” ujar Josua. Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh dinamika pasar keuangan global dibandingkan tekanan dari sisi domestik.
Dampak Spesifik pada Sektor Tertentu
Meskipun tidak berdampak sistemik pada daya beli masyarakat umum, Josua mengakui adanya pengaruh langsung pada kalangan tertentu yang bersinggungan dengan valuta asing. Kelompok yang terdampak antara lain orang tua yang membiayai pendidikan anak di luar negeri serta pelaku usaha dengan kebutuhan impor tinggi.
Bagi dunia usaha, pelemahan rupiah memberikan dampak yang beragam sebagai berikut:
- Eksportir: Berpotensi mendapatkan keuntungan lebih besar karena penerimaan dalam dollar AS meningkat saat dikonversi ke rupiah.
- Importir: Menghadapi risiko kenaikan biaya produksi akibat harga bahan baku impor yang lebih mahal.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Josua menyarankan pelaku usaha memanfaatkan instrumen lindung nilai atau hedging yang disediakan perbankan. Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih mengutamakan produk lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Tinjauan Bank Indonesia Terkait Nilai Tukar
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Berdasarkan data per 18 Februari 2026, rupiah berada di level Rp 16.880 per dollar AS, atau melemah 0,56 persen secara point to point dibandingkan akhir Januari 2026.
“Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (19/2/2026). Ia menyebut ketidakpastian pasar keuangan global dan peningkatan permintaan valuta asing dari korporasi domestik menjadi faktor teknikal yang menimbulkan tekanan jangka pendek.
Informasi mengenai kondisi nilai tukar dan stabilitas ekonomi ini dihimpun dari pernyataan resmi Bank Indonesia serta paparan dalam agenda Economic Outlook 2026.
