Kematian Siswa SD di NTT Ungkap Tekanan Sistem Pendidikan, Peran Sekolah dalam Perlindungan Anak Disoroti
Seorang siswa sekolah dasar berusia sekitar 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia pada awal Februari 2026. Tragedi ini diduga kuat dipicu oleh tekanan psikologis akibat ketidakmampuan membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah, memicu pertanyaan besar tentang keadilan dalam sistem pendidikan Indonesia.
Latar Belakang Tragedi dan Kondisi Anak
Anak yang duduk di kelas IV SD tersebut berasal dari keluarga prasejahtera dan diasuh oleh neneknya. Keterangan dari pihak keluarga mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi menjadi sumber tekanan bagi anak, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti buku dan pena.
Secara psikologis dan hukum, anak usia 10 tahun belum memiliki kapasitas matang untuk mengambil keputusan ekstrem atau memahami persoalan struktural seperti kemiskinan dan kegagalan sistem. Kematian ini bukan sekadar kisah duka satu keluarga, melainkan cerminan isu keadilan sosial, perlindungan anak, dan desain pendidikan dasar di Indonesia.
Perbandingan dengan Fenomena Global: Kasus di Jepang
Kasus serupa, meski dengan konteks ekonomi berbeda, juga terjadi di negara maju. Pemerintah Jepang mencatat 529 pelajar usia SD hingga SMA meninggal akibat bunuh diri pada tahun 2024, angka tertinggi sejak pencatatan resmi dimulai pada 1980. Jumlah ini kembali meningkat pada 2025, menembus lebih dari 530 anak dalam setahun.
Dari data tersebut, mayoritas adalah siswa SMA, disusul SMP, dan sekitar 10 hingga 15 kasus melibatkan siswa sekolah dasar. Pemerintah dan peneliti Jepang mengelompokkan penyebab bunuh diri anak dan remaja ke dalam tiga kategori besar: masalah sekolah, masalah keluarga, dan masalah kesehatan mental, dengan masalah sekolah sebagai faktor paling dominan.
Masalah sekolah mencakup tekanan akademik, ekspektasi sosial yang berat, hubungan buruk dengan teman sebaya, serta pengalaman perundungan. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 20% remaja pernah memiliki ide bunuh diri, dengan faktor risiko terkuat adalah rasa terasing, konflik sosial, dan keyakinan bahwa dirinya tidak berguna atau menjadi beban bagi orang lain.
Tekanan Psikologis dan Peran Sistem Pendidikan
Dalam konteks psikologi bunuh diri modern, kondisi yang dialami anak di Ngada dapat dikaitkan dengan “perceived burdensomeness”, yaitu perasaan menjadi beban bagi orang lain. Pada usia sekolah dasar, anak membangun rasa mampu dan harga diri melalui pencapaian dan penerimaan sosial. Ketika seorang anak berulang kali tidak memiliki perlengkapan belajar seperti teman-temannya dan merasa menyusahkan keluarga, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi rasa gagal dan beban.
Buku dan pena, dalam kasus ini, bukan penyebab utama, melainkan pemicu terakhir dari tekanan panjang yang terakumulasi. Sistem di sekolah, jika tidak dirancang sebagai ruang aman, dapat menjadi arena tekanan psikologis yang intens. Budaya kompetisi, standar keberhasilan yang sempit, dan absennya dukungan emosional membuat anak merasa bahwa kegagalan akademik sama dengan kegagalan sebagai manusia.
Anak-anak dari keluarga miskin sering kali masuk sekolah dengan modal yang tidak setara, namun sistem sekolah memperlakukan mereka seolah semua anak memulai dari garis yang sama. Akibatnya, anak memikul masalah sendirian dan tidak ada mekanisme sistematis yang mendeteksi tekanan psikologis yang dialaminya.
Tanggung Jawab Struktural dan Rekomendasi Perubahan
Tragedi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sesungguhnya bersifat struktural, terletak pada desain sistem pendidikan dan perlindungan anak yang belum cukup sensitif terhadap kemiskinan ekstrem dan kerentanan psikologis anak. Kehadiran negara dalam program besar sering kali belum menyentuh detail kecil yang menentukan martabat anak di ruang kelas.
Untuk mencegah peristiwa serupa, sekolah dasar perlu dijadikan garis depan perlindungan anak. Mandat dan sumber daya harus dibekali untuk mendeteksi anak rentan, meniadakan tuntutan perlengkapan belajar individual bagi keluarga miskin ekstrem, serta membangun lingkungan belajar yang bebas dari rasa malu.
Pendidikan gratis tidak cukup jika martabat anak masih harus dibayar oleh kemiskinan. Kasus ini menjadi cermin jujur dari sistem yang perlu dievaluasi secara serius agar anak-anak paling rentan merasa dilindungi dan tidak merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani.
Informasi mengenai tragedi ini dan analisis mendalam tentang implikasi sistem pendidikan dihimpun dari berbagai laporan dan kajian terkait isu pendidikan dan perlindungan anak.