Sebanyak 27 penambang dilaporkan tewas akibat ledakan tambang batu bara ilegal di wilayah Mynsyngat–Thangsko, Distrik East Jaintia Hills, Meghalaya, India timur laut. Insiden yang terjadi pada Kamis (5/2/2026) pagi sekitar pukul 10.00 waktu setempat ini kembali menyoroti bahaya praktik penambangan “lubang tikus” yang dilarang.
Detail Korban dan Lokasi Kejadian
Hingga Sabtu (7/2/2026), jumlah korban jiwa terus bertambah setelah petugas menemukan dua jenazah tambahan di lokasi kejadian yang berjarak sekitar 70 kilometer dari ibu kota Meghalaya, Shillong. Selain korban tewas, sedikitnya sembilan orang mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan medis intensif.
Pejabat Pasukan Tanggap Bencana Nasional India (NDRF), HPS Kandarian, menyatakan bahwa operasi pencarian masih terus dilakukan karena diduga masih ada penambang yang terjebak. “Mungkin masih ada beberapa orang yang terperangkap di bawah sana. Kami terus berupaya melakukan pencarian,” ujar Kandarian.
Kendala Evakuasi dan Medan Terpencil
Wakil Komisaris Distrik East Jaintia Hills, Manish Kumar, menjelaskan bahwa proses evakuasi menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan peralatan dan kondisi geografis. Lokasi tambang ilegal tersebut berada di kawasan terpencil yang hanya dapat diakses melalui perjalanan darat berjam-jam melewati medan off-road.
Kondisi ini menyulitkan mobilisasi alat berat ke titik ledakan. Pada tahap awal, upaya menjangkau bagian dalam tambang sempat ditangguhkan demi menjamin keselamatan tim penyelamat yang bertugas di lapangan.
Penyebab Ledakan dan Praktik Lubang Tikus
Pihak kepolisian menduga ledakan dipicu oleh penggunaan dinamit dalam metode penambangan rat-hole mining atau lubang tikus. Teknik ini melibatkan penggalian terowongan sempit yang sering kali hanya cukup untuk satu orang dengan sistem ventilasi yang sangat minim.
Meskipun telah dilarang secara resmi sejak 2014 karena risiko kecelakaan dan kerusakan lingkungan, praktik ini dilaporkan masih berlangsung di sejumlah wilayah terpencil. Data pemerintah menunjukkan setidaknya 63 orang telah tewas akibat penambangan ilegal ini di wilayah Assam dan Meghalaya sejak 2012.
Respons Pemerintah dan Santunan Korban
Kepala Menteri Meghalaya, Conrad Sangma, telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan menegaskan akan menindak tegas pihak yang terlibat dalam aktivitas ilegal tersebut. Sementara itu, Kepala Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, menyatakan siap memberikan bantuan bagi keluarga korban yang mayoritas berasal dari wilayahnya.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengumumkan pemberian bantuan finansial bagi para korban dengan rincian sebagai berikut:
| Kategori Korban | Besaran Santunan (Rupee) | Estimasi (Rupiah) |
| Keluarga Korban Meninggal | 200.000 | Rp 37,1 Juta |
| Korban Luka-luka | 50.000 | Rp 9,2 Juta |
Informasi mengenai perkembangan penanganan tragedi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Pemerintah Negara Bagian Meghalaya dan laporan otoritas penanggulangan bencana setempat.
