Malaysia Perangi Ikan Sapu-sapu Invasif: Insentif Diberikan, Puluhan Ton Berhasil Ditangkap
Pemerintah Negara Bagian Selangor, Malaysia, telah memberikan insentif kepada warganya yang berhasil menangkap ikan sapu-sapu atau pleco. Langkah ini merupakan bagian dari upaya serius untuk menekan populasi spesies ikan invasif tersebut yang dinilai merusak ekosistem sungai. Program ini dirancang untuk mengendalikan dampak negatif ikan sapu-sapu terhadap lingkungan perairan dan infrastruktur.
Program Insentif dan Target Penangkapan
Program pemberian insentif bagi warga yang menangkap ikan sapu-sapu telah berlangsung beberapa kali, bertujuan meningkatkan pemahaman publik mengenai ancaman spesies ini. Media Malaysia The Straits Times pada Jumat (1/9/2025) melaporkan, inisiatif ini menunjukkan respons positif dari masyarakat.
Pemerintah Selangor berhasil menangkap hingga 50 ton ikan sapu-sapu di jalur Sungai Langat pada September 2024. Putaran kedua pada Desember 2024 mencatat penangkapan 11 ton, sementara putaran ketiga dilaporkan tengah direncanakan.
Ketua Komite Infrastruktur dan Pertanian Selangor, Izham Hashim, menjelaskan bahwa pemerintah memberikan insentif sebesar 1 ringgit Malaysia, atau sekitar Rp 4.200, per kilogram ikan yang berhasil ditangkap warga. Program ini secara spesifik dirancang untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang berkontribusi pada kerusakan tebing sungai dan risiko banjir di kawasan perkotaan.
Izham menambahkan, respons masyarakat cukup tinggi, terlihat dari berbagai tanggapan positif di media sosial. Ia berharap program ini dapat berkelanjutan untuk mengurangi, bahkan menghilangkan, populasi ikan sapu-sapu di kawasan perkotaan.
Ancaman Ekologis dan Pemanfaatan Ikan Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu, yang dikenal masyarakat setempat sebagai ikan bandaraya atau suckermouth catfish, diketahui mampu menggali dasar tanah dan tebing sungai. Aktivitas ini memicu erosi, memperkeruh air, serta meningkatkan risiko banjir.
Selain ikan sapu-sapu, pemerintah daerah juga mewaspadai keberadaan sejumlah spesies ikan invasif lain yang berpotensi mengganggu ekosistem perairan. Direktur Jenderal Departemen Perikanan Malaysia, Adnan Hussain, menyebut dominasi ikan invasif sebagai “bom waktu” bagi populasi ikan sungai asli, mengancam keseimbangan lingkungan.
Seluruh ikan sapu-sapu yang tertangkap tidak dibuang, melainkan diolah. Menurut Izham Hashim, ikan-ikan tersebut diubah menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi dan pupuk organik menggunakan teknologi Bio-Nano Yanisys. Kandungan nutrisi ikan ini sangat tinggi dan kualitasnya sangat baik jika digunakan sebagai pupuk, sehingga memiliki potensi untuk dikomersialkan.
Metode pemanfaatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat. Meskipun tidak berbahaya bagi manusia, ikan sapu-sapu memangsa ikan lain, mengganggu rantai makanan, dan mengalahkan spesies lokal dalam persaingan sumber daya.
Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Ikan Invasif
Kondisi air yang keruh menghalangi sinar matahari, menyebabkan tanaman air mati. Padahal, tanaman air berfungsi menyediakan oksigen, menyaring air, dan menjadi tempat berlindung bagi biota lain.
Saat mengeruk dasar sungai untuk mencari makan, ikan sapu-sapu bertindak layaknya buldoser, mencabut tanaman air. Ikan ini juga berfungsi seperti penyedot hidup, menghabiskan alga yang merupakan sumber makanan utama ikan-ikan asli, terutama anakan ikan.
Selain itu, ikan sapu-sapu merebut tempat persembunyian, memaksa ikan kecil keluar ke area terbuka dan lebih mudah dimangsa. Untuk berkembang biak, ikan ini menggali terowongan dalam di bantaran sungai, menciptakan ribuan lubang yang membuat tanah menjadi rapuh seperti spons.
Saat hujan deras, bantaran sungai mudah runtuh, mengirim lumpur dan tanah ke aliran sungai. Akibatnya, sungai menjadi dangkal dan menyempit, memperlambat aliran air hujan dan meningkatkan risiko banjir di kawasan permukiman sekitar.
Dosen senior Fakultas Teknik dan Ilmu Hayati Universitas Selangor, Dr Intan Faraha A. Ghani, menambahkan bahwa spesies invasif mampu mendominasi karena tumbuh cepat, cepat berkembang biak, dan mudah beradaptasi. Mereka bersaing memperebutkan makanan dan habitat, memangsa telur ikan asli, bahkan merusak lingkungan sungai itu sendiri.
Para ahli di Malaysia memperingatkan, ancaman ikan invasif tidak berhenti di Negeri Jiran. Jika tidak dikendalikan, ekosistem perairan di negara-negara tetangga juga berpotensi terdampak. Dr Nur Azalina menegaskan, “Seekor ikan peliharaan yang dilepas sembarangan bisa mengubah seluruh ekosistem. Sekali menyebar luas, hampir mustahil untuk dimusnahkan sepenuhnya.”
Informasi lengkap mengenai program dan dampak ikan sapu-sapu ini disampaikan melalui laporan The Straits Times pada 1 September 2025 serta pernyataan resmi dari pejabat dan peneliti terkait di Malaysia.