Edukasi

Mengapa Imlek Identik dengan Hujan? Simak Penjelasan Sains dan Kaitannya dengan Simbol Rezeki

Advertisement

Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia sering kali dibarengi dengan turunnya hujan deras. Fenomena ini memicu anggapan di tengah masyarakat bahwa hujan merupakan simbol keberuntungan dan datangnya rezeki melimpah di awal tahun baru. Namun, di balik tradisi tersebut, terdapat penjelasan ilmiah yang melibatkan sistem astronomi dan pola iklim tahunan.

Sistem Penanggalan Lunisolar dan Siklus Astronomi

Alasan utama mengapa Imlek sering bertepatan dengan musim hujan berkaitan dengan sistem penanggalannya. Kalender China menggunakan sistem lunisolar, yaitu gabungan antara siklus peredaran bulan dan matahari. Hal ini menyebabkan jumlah hari dalam setahun bervariasi antara 354 hingga 385 hari.

Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada 21–22 Desember. Ketentuan ini membuat Imlek selalu berada dalam rentang 21 Januari hingga 21 Februari. Karena posisi tersebut, Imlek secara alami jatuh pada periode transisi musim yang berkaitan dengan perubahan cuaca ekstrem.

Kaitan dengan Puncak Musim Hujan di Indonesia

Secara meteorologis, rentang waktu jatuhnya Imlek bertepatan dengan periode puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa bulan Januari dan Februari merupakan masa aktifnya Monsun Asia yang membawa massa udara basah.

Advertisement

Beberapa faktor atmosfer yang berkontribusi terhadap tingginya curah hujan pada periode ini meliputi:

  • Aktivitas Monsun Asia yang kuat di wilayah ekuator.
  • Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO).
  • Pengaruh gelombang atmosfer seperti gelombang Kelvin dan Equatorial Rossby.

Filosofi Air sebagai Simbol Keberuntungan

Dalam perspektif budaya, Imlek dikenal sebagai Festival Musim Semi atau Lichun di Tiongkok. Momen ini menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya aktivitas agraris. Hujan yang turun pada awal musim semi dipandang sebagai pertanda baik yang membawa kesuburan bagi tanah dan menjamin hasil panen.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, air dipandang sebagai elemen vital yang melambangkan kehidupan dan kelimpahan. Kepercayaan ini berakar dari sejarah nenek moyang yang mayoritas berprofesi sebagai petani, di mana hujan menjadi penentu kesejahteraan keluarga sepanjang tahun.

Advertisement