Finansial

Mengenal Conscious Unbossing: Alasan Gen Z Tolak Jabatan Manajerial Demi Menjaga Kesehatan Mental

Advertisement

Dunia kerja saat ini tengah menghadapi tantangan baru yang disebut dengan conscious unbossing. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan talenta muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), yang secara sadar menghindari peran manajerial atau posisi kepemimpinan dalam jalur karier profesional mereka.

Komplikasi Baru dalam Leadership Gap Syndrome

Setelah gelombang great resignation dan quiet quitting, conscious unbossing muncul sebagai komplikasi baru yang menyerang aspek regenerasi organisasi. Jika fenomena sebelumnya berkaitan dengan retensi karyawan, tren ini justru menghantam pipa suksesi kepemimpinan yang berkelanjutan.

Dalam kajian Leadership Gap Syndrome (LGS), kondisi ini dianalogikan seperti kerusakan organ vital pada penyakit kronis. Organisasi tidak hanya kehilangan orang yang pergi, tetapi orang-orang kompeten yang bertahan justru enggan naik kelas menjadi pemimpin secara sengaja.

Alasan di Balik Penolakan Menjadi Bos

Banyak pekerja dari kalangan Gen Z dan milenial menilai posisi manajemen menengah sebagai peran dengan tingkat stres tinggi namun memiliki imbalan yang rendah (high stress, low reward). Mereka lebih memilih jalur karier sebagai kontributor individu yang tidak menuntut tanggung jawab mengelola orang lain.

Beberapa faktor yang memicu sentimen ini antara lain:

  • Beban kerja manajerial yang dianggap sebagai tameng KPI perusahaan.
  • Kurangnya dukungan dan otoritas sumber daya yang sepadan.
  • Beban koordinasi digital yang intens, termasuk meeting overload dan chat overload.
  • Keinginan menjaga batasan kehidupan kerja atau work-life balance.

Data Survei dan Realitas Pasar Kerja

Data survei dari Robert Walters memperkuat fenomena ini dengan temuan bahwa 52 persen profesional Gen Z tidak memiliki keinginan untuk menjadi manajer menengah. Mereka lebih memprioritaskan jalur karier yang membuat hidup lebih terkendali dan seimbang secara mental.

Advertisement

Bagi generasi ini, promosi ke jabatan manajerial sering kali dipandang bukan sebagai pencapaian atau naik kelas, melainkan sekadar penambahan beban kerja tanpa kompensasi psikologis yang memadai.

Dampak Strategis bagi Keberlanjutan Bisnis

Fenomena ini bukan sekadar isu sumber daya manusia, melainkan ancaman terhadap strategi eksekusi bisnis. Ketika pasokan calon pemimpin menurun, organisasi akan bergantung pada segelintir manajer saja, yang memicu ketidakstabilan jabatan.

Kondisi ini juga berpotensi menurunkan kualitas umpan balik dan pembinaan di internal tim. Inovasi perusahaan dapat melambat karena keamanan psikologis yang rapuh, sehingga menciptakan kekosongan kepemimpinan yang mengancam keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Langkah Mitigasi bagi Organisasi

Untuk mengatasi krisis regenerasi ini, organisasi perlu mendesain ulang peran pemimpin agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. Beberapa langkah praktis yang dapat diambil meliputi:

  1. Redesain peran manajer dengan mengurangi beban administratif dan memperjelas hak pengambilan keputusan.
  2. Menerapkan dual career ladder, yaitu jalur pakar yang setara secara prestise dan kompensasi dengan jalur manajer.
  3. Meningkatkan kemampuan dukungan seperti keterampilan pembinaan dan manajemen konflik lintas generasi.
  4. Memperbaiki rasio imbalan terhadap stres dengan menyediakan insentif dan alat pendukung yang memadai.

Informasi mengenai fenomena kepemimpinan dan tantangan regenerasi ini disusun berdasarkan analisis tren tenaga kerja dan data survei profesional yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement