Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum memberikan kepastian mengenai penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk melunasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Purbaya menyatakan perlu melakukan diskusi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan terkait beban finansial proyek tersebut.
Purbaya menyebutkan bahwa skema pembiayaan saat ini masih diingat dalam proporsi 50:50. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Economic Outlook di Jakarta Pusat pada Kamis (12/2/2026).
“Saya belum tanya masalah itu, belum (dengan APBN) seingat saya masih 50:50 tapi saya akan diskusi,” ujar Purbaya menanggapi rencana negosiasi pembayaran utang dengan pihak China.
Opsi Penggunaan APBN dan Peran Danantara
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menggodok penyelesaian pembayaran utang dan bunga Whoosh senilai Rp 1,2 triliun. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pengalihan beban ke APBN agar tidak memberatkan konsorsium BUMN.
Prasetyo mengonfirmasi bahwa Danantara, di bawah pimpinan Rosan sebagai CEO, sedang memimpin pembicaraan teknis dan negosiasi dengan China. Namun, mekanisme detail pembayaran jika menggunakan uang pajak masyarakat belum dirinci lebih lanjut.
Beban Kerugian Konsorsium BUMN
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI) mencatatkan kerugian sebesar Rp 4,195 triliun sepanjang tahun 2024. Angka ini setara dengan kerugian rata-rata Rp 11,493 miliar per hari bagi konsorsium BUMN Indonesia.
Tren kerugian tersebut dilaporkan masih berlanjut pada tahun 2025. Hingga semester I-2025 (Januari-Juli), PT PSBI telah membukukan kerugian tambahan mencapai Rp 1,625 triliun.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan bertanggung jawab penuh atas permasalahan ini dan meminta masyarakat untuk tetap tenang. Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi para menteri terkait dan laporan keuangan entitas anak KAI yang dirilis pada Februari 2026.
