Menteri Koperasi Ferry Juliantono dijadwalkan bertemu dengan Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, pada Rabu (18/2/2026) sore. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas teknis pelaksanaan program “gentengisasi” yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, mengingat Kebumen merupakan salah satu sentra produksi genteng terbesar di Pulau Jawa.
Koordinasi Pengembangan Sentra Genteng Kebumen
Ferry menjelaskan bahwa kehadiran Wakil Bupati Kebumen sangat krusial dalam memetakan potensi produksi di daerah tersebut. Salah satu pelaku usaha yang menjadi sorotan adalah UD Genteng Sokka Mubarokah yang telah lama beroperasi di wilayah tersebut.
“Nanti juga salah satunya ada Wakil Bupati Kebumen yang akan hadir sore ini juga salah satunya membicarakan karena salah satu kabupaten yang menjadi sentra genteng itu adanya di Kebumen,” ujar Ferry saat ditemui di kantornya, Jakarta.
Meski demikian, Ferry mengakui bahwa arahan detail mengenai program ini masih dalam tahap pematangan. Ia menegaskan bahwa Kementerian Koperasi siap mendukung penuh agar kebijakan ini dapat diterapkan secara masif di seluruh Indonesia sesuai instruksi presiden.
Transformasi Atap Nasional dan Peran Koperasi
Program gentengisasi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah pada awal Februari lalu. Presiden mengkritik penggunaan atap seng yang dinilai panas, mudah berkarat, dan kurang estetis.
Untuk mendukung visi tersebut, Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih akan diberi mandat khusus untuk memproduksi genteng dengan inovasi bahan baku yang lebih ringan. Ferry menyatakan bahwa koperasi akan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan material bangunan tersebut secara nasional.
“Bapak Presiden ingin supaya perubahan atap-atap yang dari seng itu bisa diganti jadi genteng dan koperasi-koperasi juga diminta untuk memproduksi genteng-genteng,” kata Ferry.
Kesiapan Produksi Pengusaha Lokal
Rencana pemerintah ini disambut positif oleh para pengusaha genteng di Kebumen. Siti Mubarokah, pemilik UD Genteng Sokka Mubarokah, menyatakan optimisme terhadap peningkatan permintaan genteng tanah liat di masa mendatang.
Saat ini, Siti mengelola infrastruktur produksi yang cukup besar untuk mendukung program nasional tersebut, dengan rincian sebagai berikut:
| Jumlah Tobong (Tungku) | 4 Unit |
| Kapasitas per Tobong | 25.000 Keping |
| Lokasi Produksi | 15 Titik |
| Kapasitas Harian per Lokasi | 1.000 Genteng |
“Semakin semangat memenuhi permintaan-permintaan yang akan datang. Tempat pembakaran kita tidak hanya satu sih. Ada empat tempat pembakaran,” tutur Siti menjelaskan kesiapan usahanya.
Informasi mengenai koordinasi program gentengisasi ini dihimpun berdasarkan pernyataan resmi Menteri Koperasi dan keterangan pelaku usaha terkait pada Februari 2026.
