Partisipasi investor ritel di pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif dengan penambahan 5,34 juta investor baru sepanjang tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total Single Investor Identification (SID) telah mencapai angka 20,2 juta hingga awal tahun 2026. Namun, lonjakan jumlah investor ini perlu dibarengi dengan pemahaman mendalam mengenai risiko pasar, terutama terkait fenomena saham gorengan.
Karakteristik Saham Gorengan dan Modus Pump and Dump
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa saham gorengan umumnya memiliki pola pump and dump. Modus ini ditandai dengan lonjakan harga yang drastis dalam waktu singkat tanpa didukung oleh kinerja fundamental perusahaan yang mumpuni. Harga kemudian akan anjlok secara tiba-tiba saat pelaku utama mulai melepas kepemilikan saham mereka.
Menurut Nafan, pergerakan harga tersebut sering kali memanfaatkan psikologi fear of missing out (FOMO) di kalangan investor ritel. “Pump and dump, harga saham tiba-tiba menguat signifikan, kemudian tiba-tiba menurun signifikan,” ujar Nafan saat dihubungi pada Minggu (15/2/2026).
Mengenal Praktik Wash Sales dan Painting the Tape
Selain fluktuasi harga yang ekstrem, ciri lain dari saham gorengan adalah adanya volume semu atau wash sales. Praktik ini menciptakan ilusi bahwa suatu saham sangat likuid dan diminati banyak pihak, padahal transaksi jual-beli dilakukan oleh pihak yang sama melalui berbagai akun berbeda di bawah satu kendali.
Terdapat pula upaya manipulasi harga yang dikenal sebagai painting the tape. Strategi ini dilakukan dengan menggerakkan harga secara tipis menjelang penutupan sesi perdagangan agar grafik harian terlihat positif. Tujuannya adalah membangun persepsi publik bahwa saham tersebut memiliki daya beli yang kuat di pasar.
Ketergantungan pada Narasi Media Sosial
Nafan juga menyoroti bagaimana saham gorengan sangat bergantung pada narasi di media sosial atau promosi dari para pemengaruh (influencer). Pergerakan harga lebih banyak dipicu oleh rumor dan sentimen viral dibandingkan dengan data laporan keuangan atau prospek bisnis yang terukur.
“Ketergantungan pada narasi atau influencer, di mana harga bergerak bukan karena laporan keuangan, tapi karena hembusan rumor di media sosial tanpa basis fundamental,” tegas Nafan. Risiko koreksi tajam akan membayangi investor ketika narasi atau rumor tersebut berhenti beredar.
Strategi Investasi Aman bagi Investor Ritel
Untuk menghindari kerugian akibat saham gorengan, investor ritel disarankan untuk menerapkan disiplin investasi melalui beberapa langkah strategis berikut:
- Fokus pada Fundamental: Selalu periksa laporan keuangan, pertumbuhan laba, arus kas, serta rasio valuasi seperti price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV).
- Prioritaskan Dividen: Pilih saham dengan rekam jejak pembagian dividen yang stabil. Nafan menyebut saham dengan dividend yield di kisaran 4-7 persen tetap menjadi primadona di tengah pasar yang stabil.
- Diversifikasi Portofolio: Hindari menempatkan seluruh modal pada satu saham atau sektor saja. Kombinasikan saham defensif seperti sektor perbankan dan konsumsi dengan saham kategori growth untuk menjaga keseimbangan risiko.
Informasi lengkap mengenai edukasi strategi investasi dan pengenalan risiko pasar modal ini merujuk pada penjelasan analis sekuritas yang dirilis pada 15 Februari 2026.
