Palantir Ungkap: Ijazah Kampus Beken Tak Lagi Jaminan Karier di Era Dominasi Kecerdasan Buatan
Alex Karp, CEO perusahaan data raksasa Palantir Technologies, mengeluarkan peringatan keras bagi para lulusan universitas bergengsi di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan lalu. Ia menegaskan bahwa ijazah dari kampus elite dengan biaya selangit kini bukan lagi jaminan aman dari gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam diskusi bersama CEO BlackRock, Larry Fink, Karp secara spesifik menyoroti nasib para lulusan jurusan humaniora dari universitas-universitas bergengsi. Menurutnya, label mentereng dari kampus elite tak akan banyak menolong jika lulusannya hanya mengandalkan kemampuan berpikir umum (generalis).
Ancaman AI bagi Lulusan Berkemampuan Generalis
Karp menilai, ijazah mahal para lulusan humaniora kini terancam tidak laku di pasar tenaga kerja masa depan. Ia memberikan ilustrasi bahwa seseorang bisa saja lulus dari kampus elite, memiliki IQ tinggi, dan menguasai ilmu filsafat atau sosial.
Namun, jika keterampilan utama mereka hanya sebatas mengolah informasi umum, posisi mereka sangat rentan digantikan mesin. “Anda kuliah di universitas elit dan belajar filsafat…keterampilan itu akan sulit untuk dipasarkan,” ujar Karp, dikutip KompasTekno dari Fortune.
Alasannya, AI generasi terbaru kini sudah sangat mahir melakukan pekerjaan kaum intelektual tersebut. Mulai dari menyintesis data, merangkum dokumen panjang, hingga menarik kesimpulan logis, semua bisa dilahap algoritma dalam hitungan detik. Kemampuan berpikir kritis dan analitis umum, yang dulu dianggap keunggulan eksklusif lulusan kampus top, kini menjadi komoditas yang bisa diproduksi massal oleh AI.
Paradoks Latar Belakang Alex Karp
Pernyataan Karp ini terdengar kontradiktif jika melihat latar belakangnya sendiri. Bos teknologi ini justru memegang gelar PhD di bidang filsafat dari Universitas Goethe Frankfurt, Jerman. Ia juga merupakan lulusan sarjana dari Haverford College dan Stanford Law School.
Meski dirinya adalah produk institusi elite, Karp realistis melihat pergeseran zaman. Ia menilai bahwa di era AI, ijazah bukan lagi pelindung. Kemampuan spesifik yang tidak bisa ditiru mesin adalah kuncinya untuk bertahan di pasar kerja.
Kebangkitan Pendidikan Vokasi dan Keahlian Spesifik
Jika sarjana humaniora terancam, Karp menunjuk pada kebangkitan sekolah vokasi dan kejuruan sebagai pihak yang justru diuntungkan. Ia berpendapat bahwa teknisi, pekerja pabrik, atau pembuat baterai akan menjadi profesi yang sangat berharga.
Alasannya, pekerjaan yang membutuhkan keahlian fisik dan teknis spesifik di dunia nyata jauh lebih sulit digantikan oleh AI ketimbang pekerjaan analisis teks atau administrasi. “Jika Anda seorang teknisi vokasi, atau misalnya kita sedang membangun baterai untuk perusahaan baterai, sekarang Anda sangat berharga,” kata Karp.
Strategi Rekrutmen Palantir Bergeser
Pernyataan Karp ini mencerminkan strategi rekrutmen Palantir saat ini. Perusahaan tersebut mulai meninggalkan obsesi pada lulusan universitas beken. Karp menceritakan salah satu karyawan terbaiknya yang mengelola sistem militer canggih “Maven”.
Karyawan tersebut bukanlah lulusan Harvard atau Stanford, melainkan mantan polisi yang menempuh pendidikan di junior college. Bagi Karp, sistem penyaringan bakat tradisional berbasis ijazah mentereng sering kali gagal menangkap potensi orang-orang seperti ini yang memiliki intuisi teknis tinggi.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Alex Karp di ajang World Economic Forum (WEF) yang dirilis pekan lalu.