Investasi emas digital kini semakin digandrungi masyarakat Indonesia berkat kemudahan akses dan fleksibilitas nominalnya. Melalui layanan seperti Tabungan Emas Pegadaian, investor dapat memulai langkah mereka hanya dengan modal Rp 10.000. Meski populer, instrumen ini tetap memiliki karakteristik risiko yang sering kali diabaikan oleh para investor pemula.
Emas Bukan Aset Bebas Risiko
Salah satu kekeliruan paling mendasar adalah menganggap emas sebagai aset yang pasti menguntungkan tanpa risiko. Padahal, kinerja emas sangat bergantung pada dinamika pasar global, kebijakan moneter, hingga tingkat inflasi.
“Para investor harus menyadari bahwa ada periode lebih dari 10 tahun terakhir di mana imbal hasil emas hampir stagnan,” ujar David Flores Wilson, managing partner di Sincerus Advisory, sebagaimana dikutip dari Investopedia.
Dalam sistem digital, saldo investor akan terus berfluktuasi mengikuti harga pasar harian. Hal ini berarti nilai investasi bisa mengalami penurunan sewaktu-waktu, tergantung pada kondisi ekonomi global yang memengaruhi permintaan pasar.
Investasi vs Tabungan Konvensional
Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa emas digital adalah instrumen investasi, bukan simpanan perbankan. Oleh karena itu, produk ini tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Perbedaan ini krusial karena nilai investasi tidak memiliki jaminan tetap seperti tabungan biasa.
Pegadaian menjelaskan bahwa tujuan utama dari kepemilikan emas digital adalah memperoleh profit dari pergerakan harga. Karena tidak memiliki imbal hasil tetap, investor perlu siap menghadapi volatilitas harga yang terjadi di pasar secara berkala.
Waspadai Biaya Administrasi dan Pengelolaan
Banyak investor luput memperhitungkan biaya tambahan yang menyertai transaksi emas digital. Di Pegadaian, terdapat biaya pembukaan rekening sekitar Rp 10.000 dan biaya pengelolaan tahunan sebesar Rp 30.000 yang wajib diperhatikan.
Selain itu, terdapat biaya cetak jika investor ingin mengonversi saldo digital menjadi emas fisik. MaryAnne Gucciardi, perencana keuangan dari Wealthmind Financial Planning, mengingatkan adanya biaya penyimpanan dan premi yang bisa memengaruhi hasil akhir investasi secara signifikan.
Pentingnya Strategi Jangka Panjang
Emas idealnya digunakan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) jangka panjang. Namun, sering kali investor terjebak dalam praktik spekulasi jangka pendek yang berisiko tinggi karena sulitnya memprediksi arah harga dalam waktu singkat.
- Spekulasi: Mencoba memprediksi harga harian yang sangat fluktuatif dan tidak menentu.
- Investasi: Fokus pada akumulasi aset secara bertahap untuk tujuan keuangan masa depan.
- Diversifikasi: Menjaga porsi emas sekitar 5 hingga 10 persen dari total portofolio investasi.
Keamanan Platform dan Pengawasan OJK
Memilih platform yang legal adalah kunci utama keamanan aset digital Anda. Produk Tabungan Emas Pegadaian, misalnya, telah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan didukung oleh ketersediaan emas fisik 24 karat sebagai penjamin saldo digital.
Informasi lengkap mengenai mekanisme dan risiko investasi ini disampaikan melalui panduan resmi Pegadaian serta edukasi literasi keuangan yang dirilis secara berkala pada saluran komunikasi resmi lembaga terkait.
