Islami

Seyyed Hossein Nasr Soroti Ramadan Sebagai Momen Rekonsiliasi Transenden di Tengah Modernitas

Advertisement

Ramadan bukan sekadar kalender ibadah tahunan, melainkan sebuah interupsi sistemik yang membuktikan manusia masih memiliki kendali atas sistem modern yang mendiktenya. Fenomena ini menjadi titik balik bagi umat untuk keluar dari rutinitas mekanistik peradaban industri menuju ritme kehidupan yang lebih organik dan manusiawi.

Ramadan Sebagai Interupsi Vertikal di Kerajaan Kuantitas

Para pemikir Tradisionalis seperti Syeikh Abdul Wahid Yahya, Frithjof Schuon, dan Seyyed Hossein Nasr memandang dunia modern sebagai kerajaan kuantitas yang kehilangan poros sakralnya. Dalam konteks ini, Ramadan hadir sebagai rekonsiliasi dengan Yang Transenden di tengah proses desakralisasi dunia yang terus berlangsung.

Jika dunia modern diibaratkan sebagai mesin raksasa yang bergerak linear menuju kelelahan eksistensial, maka Ramadan adalah interupsi vertikal. Momen ini menjadi waktu di mana hegemoni materi runtuh dan manusia didorong untuk kembali kepada fitrah primordialnya melalui serangkaian ritus yang mendalam.

Estetika Lapar dan Transformasi Kesadaran

Transformasi selama bulan suci dimulai dari skala mikroskopis, yakni perubahan pada tubuh dan otak manusia. Saat tubuh beralih dari pembakaran glukosa ke keton, fokus mental individu cenderung menajam karena gangguan internal dari sistem pencernaan mereda.

Frithjof Schuon menyebut fenomena ini sebagai alkimia pengosongan. Perut yang kosong diyakini membuka ruang batin yang lebih luas, sehingga manusia tidak lagi sekadar melihat dunia secara fisik, tetapi mulai menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang sebelumnya tertutup kabut konsumerisme.

Perubahan Ritme Kota dan Ruang Publik

Ramadan juga mengubah metabolisme kota secara kolosal. Puncak aktivitas masyarakat berpindah dari jam kantor konvensional ke waktu sahur dan menjelang berbuka puasa. Seyyed Hossein Nasr menilai fenomena ini sebagai bentuk re-enchantment atau menghidupkan kembali nuansa sakral di ruang beton yang kaku.

Advertisement

Beberapa poin utama perubahan ritme sosial selama Ramadan meliputi:

  • Pergeseran poros produktivitas dari ekonomi murni ke ritme ibadah kolektif.
  • Runtuhnya isolasi individu karena gerak komunal dalam waktu yang sama.
  • Penerapan waktu kualitatif yang lebih bermakna dibandingkan waktu linear.

Halalifikasi Digital dan Kedaulatan Jiwa

Interupsi Ramadan turut merambah ke ruang siber melalui fenomena yang disebut sebagai halalifikasi digital. Selama bulan ini, terjadi sensor mandiri secara kolektif di mana pengguna media sosial cenderung menghindari debat kusir demi menjaga kualitas ibadah.

Langkah ini dipandang sebagai upaya merebut kembali kedaulatan jiwa dari penjajahan algoritma. Dalam perspektif Tradisionalis, hal ini merupakan bentuk eksorsisme kolektif untuk memutus rantai distraksi dan kembali pada keheningan spiritual.

Informasi mengenai perspektif filosofis Ramadan terhadap modernitas ini dirangkum dari kajian pemikiran tokoh-tokoh Tradisionalis Islam dalam meninjau fenomena sosial keagamaan kontemporer.

Advertisement