Teknologi

Strategi Baru IBM: Rekrut Ribuan Pegawai Entry Level untuk Posisi yang Tak Bisa Digantikan AI

Advertisement

IBM berencana melipatgandakan perekrutan karyawan tingkat awal (entry level) di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat pada tahun 2026. Langkah ini diambil setelah raksasa teknologi tersebut sempat memangkas sekitar 2.700 pekerja atau kurang dari satu persen total karyawannya pada akhir 2024 dengan alasan peningkatan produktivitas melalui kecerdasan buatan (AI).

Transformasi Peran dan Deskripsi Pekerjaan Baru

Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan bahwa perusahaan telah merombak deskripsi pekerjaan level awal agar tetap relevan di era transformasi digital. Menurutnya, tugas-tugas rutin yang umum dilakukan dua hingga tiga tahun lalu, seperti coding dasar, kini sudah dapat ditangani oleh AI.

Oleh karena itu, IBM kini menggeser fokus pada kemampuan yang sulit diotomatisasi. Karyawan baru diharapkan memiliki keunggulan dalam berinteraksi dengan klien serta memahami kebutuhan bisnis secara mendalam. Di divisi sumber daya manusia, staf entry level kini bertugas mengoreksi keluaran chatbot HR dan berkomunikasi langsung dengan manajer saat sistem otomatis tidak mampu memberikan jawaban tepat.

Risiko Kekosongan Talenta Masa Depan

Keputusan IBM untuk kembali merekrut talenta muda didasari oleh kekhawatiran akan keberlanjutan sumber daya manusia di masa depan. Perusahaan menilai bahwa menghentikan rekrutmen level awal mungkin menghemat biaya dalam jangka pendek, namun berisiko menciptakan kekosongan talenta tingkat menengah di tahun-tahun mendatang.

Tanpa jalur pembinaan internal, IBM akan lebih bergantung pada perekrutan eksternal yang membutuhkan biaya lebih mahal dan waktu adaptasi yang lebih lama. Langkah ini menegaskan bahwa meskipun AI semakin canggih, kebutuhan akan tenaga kerja manusia tetap ada melalui penyesuaian bentuk peran dan tanggung jawab.

Advertisement

Evaluasi Penggunaan AI di Klarna dan Salesforce

Fenomena serupa juga terjadi pada perusahaan teknologi lain dengan hasil yang beragam. Klarna, perusahaan teknologi finansial asal Swedia, sempat memangkas 1.200 karyawan pada 2024 untuk digantikan AI. Meski berhasil menghemat anggaran sekitar 2 juta dollar AS, Klarna mengakui bahwa penggunaan AI tersebut tidak signifikan dalam meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk bagi pelanggan. Saat ini, Klarna dilaporkan kembali membuka lowongan pekerjaan di situs resminya.

Di sisi lain, Salesforce melakukan PHK terhadap 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada September 2025. CEO Salesforce, Marc Benioff, menyatakan bahwa posisi tersebut digantikan oleh teknologi agentic AI yang diklaim meningkatkan produktivitas. Salesforce menerapkan program omni channel supervisor untuk mengintegrasikan kerja sama antara tenaga manusia yang tersisa dengan sistem AI.

Informasi mengenai perubahan strategi ketenagakerjaan dan adaptasi teknologi ini dihimpun dari laporan tahunan perusahaan serta pernyataan resmi para eksekutif yang dirilis melalui Bloomberg dan kanal komunikasi resmi masing-masing lembaga.

Advertisement