Finansial

Strategi UMKM Padang Kelola Arus Kas: Pisahkan Rekening Pribadi hingga Bijak Gunakan Kredit Digital

Advertisement

Pengelolaan keuangan menjadi tantangan utama bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan. Masalah arus kas yang tidak tertata sering kali membuat usaha jalan di tempat meskipun angka penjualan menunjukkan tren positif, sebagaimana dialami oleh sejumlah pengusaha di Padang, Sumatera Barat.

Pemisahan Keuangan Pribadi dan Modal Usaha

Deby Siska, seorang pengusaha percetakan rumahan di Padang, mengungkapkan bahwa kesalahan fatal yang pernah ia lakukan adalah mencampur uang usaha dengan uang pribadi dalam satu dompet. Hal ini membuatnya sulit melacak keuntungan riil meskipun pesanan terus berdatangan dan jumlah mesin produksi bertambah.

Kesadaran untuk membenahi manajemen keuangan muncul saat ia mengikuti acara Kelas Tunai yang digelar Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kementerian UMKM bersama ShopeePay dan SeaBank di Padang pada Rabu (9/2/2026). Deby kini mulai memisahkan setiap pos pengeluaran secara mendetail.

“Dulu semua campur. Uang belanja, uang sekolah, uang beli tinta,” kata Deby.

Pemanfaatan Kredit Digital Secara Terukur

Dalam operasional bisnis percetakan, ketersediaan stok bahan baku seperti kertas dan tinta merupakan hal krusial. Deby menyiasati keterbatasan modal saat pesanan melonjak dengan memanfaatkan fasilitas kredit digital seperti SPayLater sebagai alat bantu ekspansi, bukan sekadar pinjaman konsumtif.

Ia menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengambil cicilan dengan menghitung rata-rata pemasukan bulanan terlebih dahulu. Strategi ini memungkinkannya membeli aset mesin baru tanpa mengganggu arus kas harian untuk belanja bahan baku habis pakai.

Advertisement

  • Menghitung rasio cicilan terhadap pemasukan rata-rata.
  • Mengalokasikan kas tunai untuk biaya operasional mendesak.
  • Memanfaatkan tenor cicilan untuk pengadaan alat produksi mahal.

Disiplin Perputaran Modal dan Digitalisasi

Kisah sukses serupa dibagikan oleh Agnes Anggela, pemilik usaha keripik balado yang merintis bisnis sejak 2015. Berawal dari modal Rp 5 juta, kini ia mampu meraup omzet hingga ratusan juta rupiah dengan disiplin memutar kembali keuntungan usaha sebagai modal tambahan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Selain menjaga kesehatan arus kas, Agnes juga merambah kanal digital melalui e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar. Pengalaman para pelaku usaha ini menegaskan bahwa literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk naik kelas di tengah persaingan pasar yang kompetitif.

Informasi lengkap mengenai strategi pengelolaan keuangan ini disampaikan melalui edukasi literasi keuangan dalam rangkaian acara Kelas Tunai yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement