Fenomena job hopping atau berpindah-pindah kerja dalam waktu singkat kini menjadi tren yang semakin lazim di kalangan pekerja muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z. Berdasarkan laporan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey, mobilitas karier ini bukan lagi sekadar tanda kurangnya loyalitas, melainkan strategi untuk menghadapi perubahan ekonomi dan ekspektasi terhadap makna pekerjaan.
Survei yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara tersebut mencatat bahwa hampir sepertiga atau 31 persen Gen Z berencana mengganti pemberi kerja dalam dua tahun ke depan. Sementara itu, sebanyak 17 persen milenial juga menyatakan rencana serupa di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Pergeseran Makna Loyalitas dan Strategi Karier
Laporan Deloitte menegaskan bahwa kecenderungan berpindah kerja di kalangan generasi muda tidak didorong oleh ketidaksetiaan. Sebaliknya, job hopping dipandang sebagai langkah taktis untuk mencapai stabilitas dan pengembangan diri. Fleksibilitas karier kini menjadi ciri khas utama tenaga kerja modern.
Beberapa faktor utama yang mendorong perpindahan kerja meliputi:
- Kondisi pasar kerja dan ketersediaan peluang (32 persen Gen Z, 33 persen milenial).
- Keinginan memperoleh keseimbangan kerja dan kehidupan atau work-life balance (28 persen Gen Z, 26 persen milenial).
- Peningkatan kompensasi atau gaji (26 persen Gen Z, 29 persen milenial).
- Fleksibilitas waktu kerja dan peluang pengembangan karier.
Uang, Makna, dan Kesejahteraan sebagai Fondasi Utama
Keputusan karier Gen Z dan milenial saat ini sangat dipengaruhi oleh tiga faktor fundamental, yaitu aspek finansial, makna pekerjaan, dan kesejahteraan. Ketiga elemen ini menjadi dasar kebahagiaan mereka di lingkungan kerja. Pekerjaan tidak lagi hanya dilihat sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sarana menemukan tujuan hidup.
Data menunjukkan 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menganggap rasa memiliki tujuan dalam pekerjaan sangat penting bagi kepuasan kerja. Bahkan, sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku pernah meninggalkan pekerjaan karena merasa tugas yang dikerjakan tidak memiliki makna atau tidak selaras dengan nilai pribadi mereka.
Tekanan Finansial dan Prioritas Keterampilan
Kondisi ekonomi global turut mempercepat tren job hopping. Laporan tersebut mengungkap hampir setengah dari responden, yakni 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial, merasa tidak aman secara finansial. Banyak di antaranya yang hidup dari gaji ke gaji atau paycheck to paycheck.
Selain faktor uang, pengembangan keterampilan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Sebanyak 70 persen Gen Z dan 59 persen milenial aktif mengasah kemampuan mereka minimal sekali dalam seminggu, bahkan di luar jam kerja resmi. Hal ini dilakukan demi menjaga daya saing di pasar tenaga kerja yang dinamis.
Keseimbangan Hidup Mengalahkan Ambisi Jabatan
Berbeda dengan generasi terdahulu, posisi kepemimpinan bukan lagi tujuan utama bagi sebagian besar Gen Z. Tercatat hanya 6 persen Gen Z yang menempatkan jabatan kepemimpinan sebagai target karier tertinggi. Mereka lebih memprioritaskan stabilitas finansial dan kesempatan belajar yang berkelanjutan.
Kesenjangan ekspektasi juga menjadi pemicu perpindahan kerja. Banyak pekerja muda merasa manajer mereka lebih fokus pada pengawasan tugas harian dibandingkan memberikan bimbingan atau mentorship. Dengan proyeksi bahwa Gen Z dan milenial akan mencakup 74 persen tenaga kerja global pada 2030, preferensi mereka dipastikan akan membentuk masa depan dunia kerja.
Informasi lengkap mengenai tren tenaga kerja ini bersumber dari laporan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis secara resmi melalui kanal riset global Deloitte.
