Islami

Survei Politico: 46 Persen Warga Amerika Serikat Yakin Perang Dunia III Pecah Sebelum 2031

Advertisement

Hampir separuh warga Amerika Serikat menilai Perang Dunia III kemungkinan besar akan terjadi dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Temuan ini terungkap melalui jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Politico terhadap lima negara Barat, yang menunjukkan peningkatan kekhawatiran dibandingkan periode sebelumnya.

Lonjakan Kekhawatiran di Amerika Serikat dan Inggris

Berdasarkan hasil survei terhadap lebih dari 2.000 responden di masing-masing negara pada 6–9 Februari 2026, sebanyak 46 persen warga AS menyebut Perang Dunia III “mungkin” atau “sangat mungkin” terjadi sebelum 2031. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dari 38 persen pada Maret 2025.

Lonjakan persepsi serupa juga terjadi di Inggris, di mana 43 persen responden kini menilai perang dunia baru berpotensi pecah dalam lima tahun ke depan. Angka ini meningkat tajam dari sebelumnya yang hanya menyentuh 30 persen pada tahun lalu. Mayoritas responden di AS, Kanada, Inggris, dan Perancis kini memandang kondisi dunia semakin berbahaya.

Pergeseran Persepsi Keamanan Global

Kepala jajak pendapat Public First, Seb Wride, menjelaskan bahwa perubahan sikap publik ini mencerminkan kondisi global yang kian tidak stabil. Menurutnya, dalam waktu kurang dari satu tahun, terdapat pergeseran dramatis menuju dunia yang dipandang lebih tidak aman oleh masyarakat Barat.

Advertisement

“Perubahan sikap publik Barat mencerminkan pergeseran dramatis menuju dunia di mana perang dipandang mungkin terjadi dan aliansi-aliansi tidak stabil,” ujar Wride.

Selain ancaman perang konvensional, setidaknya satu dari tiga responden di AS, Inggris, Perancis, dan Kanada percaya bahwa senjata nuklir memiliki kemungkinan besar untuk digunakan dalam konflik lima tahun ke depan. Di Eropa, Rusia masih dipandang sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian seiring invasi ke Ukraina yang memasuki tahun keempat.

Dilema Anggaran Pertahanan dan Kebijakan Militer

Meskipun kekhawatiran akan perang meningkat, publik menunjukkan sikap mendua terkait peningkatan anggaran militer. Mayoritas responden di Perancis, Jerman, Inggris, dan Kanada setuju bahwa negara perlu membelanjakan lebih banyak dana untuk pertahanan, namun dukungan tersebut runtuh jika berdampak pada kenaikan pajak atau pemotongan layanan publik.

  • Dukungan terhadap pembentukan tentara Uni Eropa di bawah komando pusat hanya mencapai 22 persen di Jerman dan 17 persen di Perancis.
  • Kebijakan wajib militer mendapat dukungan dari sekitar setengah responden di Jerman dan Perancis.
  • Responden Kanada justru melihat Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan mereka, melampaui China.

Kondisi ini menempatkan para pemimpin Eropa dalam posisi sulit karena tekanan publik untuk meningkatkan keamanan tidak dibarengi dengan kesediaan melakukan pengorbanan finansial. Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan hasil jajak pendapat Politico dan Public First yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement