Berita

Tambang Koltan Rubaya Runtuh: Lebih dari 200 Korban Jiwa Terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo

Sebuah tragedi pertambangan melanda Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo, setelah tambang koltan Rubaya runtuh pada Rabu (28/1/2026). Insiden mematikan ini dilaporkan menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan puluhan lainnya luka-luka.

Korban Jiwa dan Kondisi Terkini

Juru Bicara Gubernur Provinsi Kivu Utara, Lumumba Kambere Muyisa, mengonfirmasi bahwa lebih dari 200 orang menjadi korban tanah longsor ini. “Lebih dari 200 orang menjadi korban tanah longsor ini, termasuk penambang, anak-anak, dan pedagang wanita. Beberapa orang berhasil diselamatkan tepat waktu dan mengalami luka serius,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera pada Sabtu (31/1/2026).

Muyisa menambahkan bahwa sekitar 20 orang yang mengalami luka-luka kini sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan. Ia juga menjelaskan penyebab insiden. “Kita sedang berada di musim hujan. Tanahnya rapuh. Tanah itulah yang ambruk saat para korban berada di dalam lubang,” sambungnya.

Seorang penambang bernama Franck Bolingo mengungkapkan keyakinannya bahwa masih ada orang yang terjebak di dalam tambang. “Hujan turun, lalu terjadi tanah longsor dan menyapu orang-orang. Beberapa terkubur hidup-hidup, dan yang lainnya masih terjebak di dalam lubang-lubang tersebut,” kata Bolingo.

Dilansir dari Reuters pada Sabtu (31/1/2026), seorang penasihat gubernur yang tidak disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas yang telah diverifikasi oleh pihak berwenang mencapai 227 orang.

Mengenal Tambang Koltan Rubaya dan Risiko Pekerja

Tambang Rubaya merupakan salah satu lokasi penting yang menghasilkan sekitar 15 persen koltan dunia. Koltan kemudian diolah menjadi tantalum, logam tahan panas yang krusial bagi industri produsen telepon seluler, komputer, komponen kedirgantaraan, hingga turbin gas.

Penduduk setempat menggali koltan di tambang Rubaya secara manual, seringkali hanya dengan upah beberapa dolar AS per hari. Tambang ini terletak sekitar 60 kilometer barat laut Kota Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara.

Insiden serupa pernah terjadi pada Juni 2025, ketika area pertambangan koltan Rubaya juga runtuh, menewaskan setidaknya 12 orang. Puluhan penambang lainnya berhasil menyelamatkan diri dari lubang tambang saat itu. Namun, penyebab pasti runtuhnya tambang pada insiden sebelumnya hingga kini belum dijelaskan.

Wilayah timur Republik Demokratik Kongo dikenal kaya akan mineral, sehingga banyak ditemukan aktivitas pertambangan. Kecelakaan pertambangan di wilayah ini masih sering terjadi, terutama karena standar keselamatan yang minim. Para penambang tradisional seringkali bekerja di lubang tambang yang tidak stabil tanpa peralatan pelindung yang memadai, meningkatkan risiko tragedi seperti yang terjadi di Rubaya.

Informasi lebih lanjut mengenai tragedi ini disampaikan melalui laporan media internasional dan pernyataan resmi dari juru bicara pemerintah Provinsi Kivu Utara.