Thailand mencatatkan tingkat adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tertinggi di kawasan Asia Tenggara, berdasarkan laporan AI Ready ASEAN Research yang dirilis pada Jumat (13/2/2026). Temuan ini menempatkan Thailand sebagai penggerak utama transformasi digital di tengah proyeksi lonjakan ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan mencapai 1 triliun dollar AS atau setara Rp16.828 triliun pada tahun 2030.
Dominasi Penggunaan AI di Sektor Pendidikan Thailand
Riset yang dikembangkan oleh ASEAN Foundation bersama Google.org dan ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM) mengungkap penggunaan Generative AI yang masif di kalangan akademisi. Tercatat sebanyak 90,29 persen siswa sekolah di Thailand telah menjadi pengguna aktif alat AI generatif untuk berbagai kebutuhan studi.
Tren serupa juga terlihat pada tenaga pendidik, di mana 81,34 persen guru rutin mengintegrasikan teknologi tersebut dalam proses belajar mengajar. Selain pemrosesan bahasa, sebanyak 85,65 persen pelajar memanfaatkan AI untuk desain grafis dalam tugas-tugas kreatif mereka. Fenomena ini menandakan perubahan perilaku yang cepat dalam cara belajar dan berkreasi di kalangan generasi muda Thailand.
Tantangan Kesenjangan Kesiapan Institusi
Meskipun angka adopsi tergolong tinggi, laporan tersebut menyoroti adanya readiness gap atau kesenjangan kesiapan antara pengguna dengan institusi pendidikan. Terdapat kekhawatiran dari kalangan orang tua dan pendidik mengenai potensi penurunan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan analitis siswa jika terjadi ketergantungan berlebihan pada teknologi AI.
Executive Director ASEAN Foundation, Piti Srisangnam, menyatakan bahwa adopsi AI di kawasan berkembang lebih cepat daripada kemampuan regulasi yang ada.
“Studi-studi ini menggeser narasi dari ‘akankah AI digunakan’ menjadi ‘seberapa siapkah institusi dan komunitas kita?’ Data ini sangat penting untuk merancang kebijakan yang memastikan AI melayani masyarakat, bukan hanya perekonomian,”
ujar Piti dalam pertemuan kebijakan regional di Manila.
Risiko Sistemik dan Keamanan Siber
Laporan AI Ready ASEAN turut memperingatkan sejumlah risiko sistemik yang dapat menghambat target ekonomi digital pada 2030. Beberapa ancaman utama yang diidentifikasi meliputi:
- Ancaman keamanan siber, termasuk peningkatan serangan digital dan penyalahgunaan teknologi deepfake.
- Masalah integritas informasi dengan maraknya misinformasi dan penyebaran konten palsu.
- Kesenjangan tata kelola (governance) di mana kebijakan digital nasional belum terintegrasi secara luas antarnegara anggota.
Inisiatif Literasi Digital Regional
Menanggapi tantangan tersebut, program AI Ready ASEAN telah menjalankan inisiatif pelatihan literasi digital yang menjangkau lima juta orang di seluruh kawasan. Program ini juga memberdayakan sekitar 3.000 Master Trainers untuk menjadi penggerak perubahan di komunitas lokal masing-masing guna memastikan teknologi digunakan secara bijaksana.
Head of Google.org Asia Pacific, Marija Ralic, menekankan bahwa akses terhadap perangkat AI saja tidak cukup tanpa pemahaman etis.
“Kesiapan sejati berasal dari pemahaman tentang cara kerja sistem ini, keterbatasan yang melekat padanya, dan penerapannya secara etis. Kita harus berinvestasi dalam literasi AI, khususnya bagi para guru,”
ungkap Ralic.
Informasi lengkap mengenai hasil riset dan proyeksi ekonomi digital ini disampaikan melalui laporan AI Ready ASEAN Research yang dirilis secara resmi pada Februari 2026.
