Finansial

Tren Career Minimalism: Generasi Muda Mulai Tolak Promosi Jabatan demi Keseimbangan Hidup

Advertisement

Fenomena career minimalism kini tengah menjadi tren di kalangan generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z. Mereka mulai menggeser prioritas dari ambisi mengejar jabatan tinggi menuju stabilitas dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

Prioritas Keseimbangan Hidup dan Keluarga

Putri, seorang pegawai Gen Z di perusahaan asing Jakarta, mengaku enggan naik jabatan meski sudah lima tahun bekerja. Baginya, gaji saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan ruang untuk hobi serta istirahat.

“Aku lebih khawatir kalau naik jabatan, waktuku untuk kehidupan pribadi semakin terbatas. Kayaknya belum siap untuk menghadapi itu,” ujar Putri.

Senada dengan Putri, Miftah yang bekerja di industri kreatif memilih menolak promosi demi waktu bersama anaknya. Ia menegaskan bahwa waktu untuk keluarga tidak bisa digantikan oleh kenaikan gaji atau fasilitas perusahaan.

Memahami Konsep Career Minimalism

Career minimalism merujuk pada pendekatan kerja yang lebih sederhana dan selektif. Fokus utamanya adalah batasan yang jelas antara kantor dan rumah serta penolakan terhadap ambisi korporat yang berlebihan.

Morgan Sanner, pakar karier dari Glassdoor, menyebutkan bahwa jenjang karier yang kaku kini telah digantikan oleh pijakan karier yang fleksibel. Pekerja muda lebih memilih berpindah ke peluang yang paling sesuai dengan kebutuhan saat ini daripada menaiki tangga hierarki linear.

Dominasi Side Hustle dan Redefinisi Sukses

Laporan tren 2025 dari Glassdoor menunjukkan sekitar 57 persen pekerja Gen Z memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle. Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial yang berada di angka 48 persen.

Advertisement

Lead Economist Glassdoor, Daniel Zhao, menjelaskan bahwa definisi kesuksesan profesional kini telah berubah. Sukses tidak lagi identik dengan jabatan tinggi, melainkan stabilitas finansial, fleksibilitas waktu, dan peluang mengembangkan minat pribadi.

Kaitan dengan Quiet Quitting dan Kepuasan Kerja

Fenomena ini sering dikaitkan dengan quiet quitting, yaitu kondisi di mana karyawan hanya mengerjakan tugas sesuai kewajiban tanpa keterlibatan psikologis berlebih. Harvard Business Review mencatat hal ini sering kali dipicu oleh kualitas kepemimpinan yang buruk.

Data Pew Research Center juga menunjukkan bahwa tingkat kepuasan kerja “sangat puas” pada pekerja muda relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Ketidakpuasan ini sering kali bersumber dari kurangnya fleksibilitas dan beban kerja yang tidak seimbang.

Dampak Pandemi dan Tantangan Perusahaan

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang membentuk ulang prioritas karier melalui pengalaman kerja jarak jauh dan ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini mendorong pekerja untuk mencari sumber pendapatan alternatif sebagai strategi mitigasi risiko.

Bagi perusahaan, tren ini menjadi tantangan untuk menciptakan model manajemen yang lebih adaptif. Pendekatan yang berorientasi pada kesejahteraan menjadi kunci untuk mempertahankan talenta muda yang kini memiliki daya tawar lebih tinggi.

Advertisement