Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One mengungkapkan bahwa setidaknya 12 ras anjing dengan karakteristik tengkorak pendek dan wajah datar memiliki risiko tinggi mengalami gangguan pernapasan serius. Meski populer di media sosial karena wajahnya yang menggemaskan, anjing-anjing jenis brachycephalic ini menyimpan ancaman kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Mengenal Brachycephalic Obstructive Airway Syndrome (BOAS)
Kondisi anatomi tengkorak yang pendek pada ras tertentu memicu munculnya Brachycephalic Obstructive Airway Syndrome (BOAS). Sindrom ini menghambat aliran oksigen menuju paru-paru, yang mengakibatkan gejala seperti napas berbunyi atau menggi, cepat lelah saat beraktivitas, hingga kesulitan bernapas kronis yang memerlukan tindakan operasi.
Dr. Fran Tomlinson dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Cambridge menjelaskan bahwa BOAS terjadi dalam sebuah spektrum. “Beberapa anjing hanya terdampak ringan, tetapi pada kasus yang lebih parah, kondisi ini dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup dan menjadi masalah kesejahteraan yang serius,” ujarnya.
Metodologi Penelitian pada 14 Ras Anjing
Tim peneliti melakukan observasi mendalam terhadap 898 ekor anjing yang mewakili 14 ras berbeda untuk memprediksi risiko BOAS. Beberapa ras yang dilibatkan dalam studi ini meliputi Boxer, King Charles Spaniel, Cavalier King Charles Spaniel, Chihuahua, Pekingese, Japanese Chin, Shih Tzu, Boston Terrier, hingga Pomeranian.
Setiap anjing dinilai menggunakan skala 0 hingga 3, di mana skor 0 menunjukkan kondisi tanpa gejala dan skor 3 mengindikasikan kesulitan bernapas yang parah. Peneliti juga mengukur proporsi tengkorak, bentuk hidung, serta ukuran tubuh dan leher subjek penelitian.
Pekingese dan Japanese Chin Tercatat Paling Rentan
Data penelitian menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan bagi beberapa ras tertentu. Pekingese ditemukan memiliki tingkat risiko BOAS yang setara dengan Bulldog, di mana hanya 11 persen dari populasi yang diteliti mampu bernapas dengan bebas tanpa gejala.
| Ras Anjing | Persentase Tanpa Gejala (Skor 0) |
|---|---|
| Pekingese | 11% |
| Japanese Chin | 17,4% |
| Shih Tzu & Boston Terrier | 25% – 50% |
| Chihuahua & Pomeranian | 50% – 75% |
Faktor kunci yang memperparah kondisi ini adalah penyempitan lubang hidung (nostril narrowing). Tercatat hanya 6 persen Pekingese dan 18 persen Japanese Chin yang memiliki lubang hidung terbuka dengan baik, sehingga aliran udara mereka sangat terhambat.
Pentingnya Kesadaran Pemilik dan Strategi Pembiakan
Para peneliti menekankan bahwa risiko BOAS bersifat herediter atau diturunkan secara genetik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perbedaan risiko antar-ras sangat krusial untuk mengembangkan strategi pembiakan yang lebih sehat di masa depan guna meningkatkan kesejahteraan hewan.
Bagi calon pemilik, memahami risiko kesehatan ini menjadi langkah awal yang penting sebelum memutuskan untuk memelihara ras brachycephalic. Standar estetika atau kecantikan ras diharapkan tidak mengabaikan kesehatan jangka panjang hewan peliharaan tersebut.
