Waspada! Memahami Pergeseran Makna Kata “Grooming” dari Positif ke Konotasi Negatif yang Mengancam
Istilah “grooming” kini memerlukan kehati-hatian dalam penggunaannya. Kata ini memiliki dua makna yang saling berlawanan, yakni positif dan negatif, yang belakangan ini mendadak dominan bermakna negatif di jagat media. Pergeseran makna ini mencuat setelah aktris Aurélie Alida Marie Moeremans mengungkapkan pengalamannya menjadi korban child grooming, serta kasus dugaan pelecehan di sebuah SD Negeri di Serpong.
Pergeseran Makna “Grooming” di Ruang Publik
Dominasi makna negatif kata “grooming” mewarnai jagat media setelah terbitnya memoar Aurélie Alida Marie Moeremans. Aktris dan penyanyi kelahiran Brussel, Belgia 1993 ini, melalui memoarnya berjudul “Broken Strings” yang beredar Januari 2026, dengan jujur menyatakan dirinya menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun.
United Nations Children’s Fund (UNICEF), badan PBB yang berdedikasi untuk melindungi hak anak-anak dan perempuan, mendefinisikan child grooming sebagai proses membangun relasi dengan seorang anak agar terlibat dalam aktivitas seksual. Hal ini dilakukan dengan cara memikat, memanipulasi, atau menghasut anak, baik secara langsung maupun melalui internet, seperti dikutip dari BBC News Indonesia pada 17 Januari 2026.
Istilah “grooming” selanjutnya digunakan untuk melabeli perbuatan tercela seorang guru wali kelas sebuah Sekolah Dasar Negeri di Serpong, Tangerang Selatan. Guru tersebut diduga mencabuli 16 murid pria, dan kasus ini sedang ditangani oleh Kepolisian Resort Tangerang Selatan, demikian dilaporkan Kompas pada Kamis, 22 Januari 2026.
Definisi Positif “Grooming” dalam Kamus
Sebelumnya, istilah “grooming” banyak dimaknai sebagai perbuatan positif. Contohnya, bersolek, merawat kuda, merawat anjing, dan bahkan bermakna mempelai.
Dalam Dictionary of English and Culture, Longman Group UK Limited 1992, disebutkan bahwa “grooming” berasal dari kata “groom” (kata benda) yang berarti orang yang bertanggung jawab merawat kuda, termasuk memberi makan dan membersihkan. “Groom” dalam kamus ini juga dimaknai sebagai “mempelai (bridegroom)”.
Sebagai kata kerja, “groom” didefinisikan sebagai merawat penampilan diri dengan berpakaian necis, bersih, dan menjaga rambut selalu rapi. Untuk binatang, “groom” diartikan membersihkan bulu atau kulit, baik dilakukan sendiri oleh binatang atau oleh binatang lainnya, seperti monyet atau ayam yang saling membersihkan bulu sesamanya.
Masih bermakna positif, kamus yang sama juga menyebutkan “groom” berarti mempersiapkan seseorang untuk menempati posisi khusus. Kamus lain, Oxford Language (online), juga mendefinisikan “grooming” sebagai menyiapkan seseorang dengan pelatihan untuk tujuan khusus, misalnya untuk kemajuan instansi atau bisnis perusahaan.
Sisi Gelap “Grooming”: Ancaman Pelecehan dan Kejahatan
Akan tetapi, kamus Oxford (online) juga memberikan makna “grooming” dengan definisi yang mengandung konotasi negatif. Menurut kamus ini, “grooming” adalah tindakan mencoba menjalin hubungan dengan seorang anak atau remaja, dengan maksud untuk melakukan pelecehan seksual terhadap mereka.
Selain itu, “grooming” juga dapat berarti membujuk mereka untuk melakukan tindakan ilegal seperti menjual narkoba atau bergabung dengan organisasi teroris. Tindakan “grooming” yang dilakukan melalui jaringan internet kini marak dan semestinya menjadi perhatian bersama, agar tidak memangsa banyak korban.
Pentingnya Konteks dalam Penggunaan Kata “Grooming”
Karena kata “groom” mempunyai dua makna yang saling berlawanan, kehati-hatian sangat diperlukan dalam berkomunikasi. Baik bagi pengirim maupun penerima informasi, penting untuk melihat konteks penggunaannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Pergeseran makna kata ‘grooming’ ini menjadi perhatian publik setelah berbagai kasus terungkap dan definisi resmi dari lembaga internasional seperti UNICEF.