Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi seorang perempuan di wilayah utara Bangladesh meninggal dunia setelah terinfeksi virus Nipah pada Januari 2026. Kasus ini memicu peningkatan kewaspadaan di kawasan Asia Selatan mengingat patogen mematikan tersebut hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.
Pasien yang berusia antara 40 hingga 50 tahun tersebut dilaporkan mulai menunjukkan gejala pada 21 Januari, diawali dengan demam dan sakit kepala hebat. Kondisinya memburuk dengan munculnya produksi air liur berlebih, disorientasi, hingga kejang sebelum akhirnya meninggal dunia sekitar sepekan kemudian. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan infeksi virus Nipah sehari setelah kematiannya.
Kronologi dan Jalur Penularan
Berdasarkan laporan WHO, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah sebelum jatuh sakit. Namun, ia diketahui sempat mengonsumsi getah pohon kurma mentah, yang diidentifikasi sebagai salah satu jalur penularan utama virus Nipah di Bangladesh. Penularan ini umumnya berasal dari kelelawar pemakan buah yang mencemari makanan atau minuman manusia melalui cairan tubuh.
Otoritas kesehatan setempat telah melakukan pemantauan ketat terhadap 35 orang yang diketahui melakukan kontak erat dengan pasien. Hingga laporan terakhir, seluruh kontak erat tersebut dinyatakan negatif dan tidak ditemukan adanya kasus lanjutan di wilayah tersebut. Sepanjang tahun 2025, Bangladesh mencatat total empat kematian yang terkonfirmasi akibat virus serupa.
Kewaspadaan Regional di Kawasan Asia
Munculnya kasus di Bangladesh ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan kawasan menyusul temuan dua kasus di India. Pemerintah India bahkan telah memberlakukan karantina terhadap sekitar 200 orang di negara bagian Benggala Barat yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. Sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura, kini memperketat pengawasan di pintu masuk internasional.
Singapura secara khusus mewajibkan pekerja migran yang datang dari Benggala Barat untuk menjalani pemantauan suhu harian dan observasi gejala selama 14 hari. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa berdasarkan data terkini, risiko penyebaran virus Nipah secara internasional masih dinilai rendah dan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan.
Karakteristik dan Dampak Neurologis Virus Nipah
Virus Nipah dikategorikan sebagai patogen berisiko tinggi dengan tingkat kematian yang sangat besar, mencapai hingga 75 persen. Selain risiko kematian, infeksi ini dapat meninggalkan dampak neurologis jangka panjang bagi penyintasnya. Beberapa dampak yang dilaporkan meliputi:
- Kejang berkepanjangan dan gangguan saraf.
- Perubahan perilaku dan kepribadian.
- Risiko peradangan otak (ensefalitis) yang dapat muncul kembali berbulan-bulan setelah infeksi awal.
Masa inkubasi virus ini umumnya berkisar antara 3 hingga 14 hari, namun dalam kasus langka dapat mencapai 45 hari. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar dan babi, konsumsi produk makanan terkontaminasi, hingga kontak langsung antarmanusia di lingkungan dengan pengendalian infeksi yang lemah.
Informasi lengkap mengenai perkembangan situasi kesehatan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan laporan otoritas kesehatan setempat yang dirilis pada Februari 2026.
