Berita

WHO Ungkap Strategi Tekan Kasus Kanker Dunia Melalui Perubahan Perilaku dan Penanganan Polusi Udara

Advertisement

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis hasil analisis terbaru yang menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga kasus kanker di seluruh dunia sebenarnya dapat dicegah. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine tahun 2026 ini menyoroti pentingnya intervensi medis dan perubahan perilaku untuk menekan angka kematian akibat penyakit tersebut.

Berdasarkan data tahun 2022, tercatat hampir 19 juta kasus kanker baru secara global. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 persen berkaitan erat dengan faktor risiko yang dapat diubah, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hingga paparan polusi lingkungan.

Faktor Risiko Utama yang Dapat Dimodifikasi

Para peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi pada tingginya angka kanker, termasuk indeks massa tubuh yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan paparan radiasi ultraviolet. Selain itu, pemberian ASI yang tidak optimal dan agen infeksi juga menjadi perhatian dalam studi ini.

“Mengatasi penyebab dari kanker merupakan salah satu peluang paling ampuh untuk mengurangi beban kanker secara global,” ujar Isabelle Soerjomataram, ahli epidemiologi medis di WHO.

Dampak Signifikan Rokok Tembakau dan Polusi

Merokok tembakau tetap menjadi faktor risiko terbesar yang menyumbang 15 persen dari seluruh kasus kanker pada tahun 2022. Pada kelompok pria, kontribusi rokok bahkan mencapai 23 persen dari total kasus di seluruh dunia.

Advertisement

Selain rokok, polusi udara menjadi ancaman serius dengan dampak yang bervariasi di tiap wilayah. Di Afrika Utara dan Asia Barat, polusi udara bertanggung jawab atas 20 persen kasus kanker paru-paru pada pria, sementara di Asia Timur, rokok memicu 15 persen kasus serupa pada wanita.

Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kesadaran Individu

Gaya hidup lain seperti konsumsi alkohol juga menyumbang sekitar 3,2 persen atau setara dengan 700.000 kasus kanker. Andre Ilbawi, Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, menekankan bahwa pemetaan pola risiko ini bertujuan untuk memberikan informasi spesifik bagi pemerintah.

Informasi lengkap mengenai hasil studi pencegahan kanker ini telah dipublikasikan secara resmi melalui jurnal Nature Medicine dan laporan berkala World Health Organization (WHO) pada Februari 2026.

Advertisement