Finansial

Analisis MUFG: Venezuela Perlu Rp 3.000 Triliun Guna Hidupkan Kembali Industri Minyak Dunia

Advertisement

Laporan terbaru MUFG Capital Markets Strategy mengungkapkan bahwa Venezuela memerlukan investasi besar-besaran senilai 150 miliar hingga 200 miliar dollar AS atau setara Rp 2.833 triliun hingga Rp 3.777 triliun untuk menghidupkan kembali industri minyaknya. Kebutuhan belanja modal ini mencakup sektor hulu, tengah, hingga kilang guna mengoptimalkan cadangan minyak mentah yang diklaim terbesar di dunia.

Paradoks Cadangan Terbesar di Tengah Kemerosotan Produksi

Berdasarkan laporan bertajuk Venezuela: Observations on Oil & Global Markets, negara ini memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak mentah. Angka tersebut melampaui cadangan milik Arab Saudi yang berada di kisaran 267 miliar barel dan Iran dengan 209 miliar barel. Namun, besarnya cadangan ini tidak berbanding lurus dengan angka produksi harian.

Managing Director Capital Markets Strategist MUFG, Tom Joyce, mencatat produksi minyak Venezuela kini berada di bawah 1 juta barel per hari (bph). Kondisi ini menempatkan Venezuela di peringkat ke-20 dunia, jauh merosot dibandingkan awal dekade 2010-an yang sempat mencapai hampir 3 juta bph. Penurunan tajam ini dipercepat oleh sanksi Amerika Serikat sejak 2017 dan pengelolaan industri yang dinilai bermasalah.

Indikator Ekonomi Venezuela Tahun 2025

Kondisi struktural ekonomi Venezuela mencerminkan tekanan mendalam dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 200 persen. Berikut adalah rincian data ekonomi Venezuela berdasarkan laporan MUFG sepanjang tahun 2025:

IndikatorData Capaian
Pertumbuhan EkonomiMinus 4 persen
Inflasi175 persen
Tingkat Kemiskinan52 persen
PDB per KapitaSekitar 5.000 dollar AS (Rp 94,44 juta)

Tantangan Teknis dan Restrukturisasi Utang

MUFG menyoroti bahwa minyak Venezuela didominasi oleh jenis minyak sangat berat dari Orinoco Belt. Pengembangan area ini memerlukan infrastruktur intensif dan biaya tinggi dengan siklus proyek yang panjang. Selain kendala teknis, ketidakpastian hukum atas utang eksternal sebesar 160 miliar dollar AS atau Rp 3.021 triliun menjadi penghambat utama bagi investor asing.

Jumlah rig pengeboran aktif di Venezuela juga mengalami kolaps. Dari 79 rig pada tahun 2012, kini hanya tersisa dua rig aktif, yang berarti terjadi penurunan kapasitas teknis hingga 97 persen dalam satu dekade terakhir. Faktor korupsi, minim investasi, dan krisis infrastruktur listrik turut memperparah kondisi operasional di lapangan.

Advertisement

Ketegangan Geopolitik dan Penangkapan Nicolas Maduro

Situasi semakin kompleks setelah militer Amerika Serikat melakukan operasi di Caracas pada awal Januari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, atas dakwaan narkotika dan terorisme. Trump menyatakan AS akan mengelola transisi di Venezuela untuk mengamankan produksi minyak negara tersebut.

Saat ini, pemerintahan sementara dipimpin oleh Delcy Rodríguez. Meskipun telah dilakukan pembebasan ratusan tahanan politik, gelombang protes warga masih terus berlangsung di berbagai kota besar seperti Caracas untuk menuntut pemulihan hak sipil secara penuh dan transisi demokrasi yang lebih jelas.

Dampak Terbatas pada Pasar Global

Meski terjadi gejolak politik besar, MUFG menilai dampak terhadap pasar global relatif terbatas. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasar minyak dunia yang tengah mengalami surplus pasokan terbesar dalam sejarah modern. Pada kuartal III 2025, terdapat surplus pasokan sebesar 2,9 juta bph dengan harga minyak Brent yang stabil di kisaran 63 dollar AS.

Informasi lengkap mengenai analisis industri energi dan kondisi makroekonomi ini bersumber dari laporan resmi MUFG Capital Markets Strategy yang dirilis pada Januari 2026.

Advertisement