Finansial

AS dan Taiwan Resmi Teken Perjanjian Dagang, Pangkas Tarif Impor dan Dorong Investasi Semikonduktor

Advertisement

Amerika Serikat dan Taiwan resmi menandatangani perjanjian perdagangan komprehensif di Washington DC pada Kamis (12/2/2026) waktu setempat. Kesepakatan ini menandai kemajuan signifikan dalam hubungan ekonomi kedua pihak setelah melalui negosiasi intensif selama berbulan-bulan terkait tarif impor dan investasi industri strategis.

Perjanjian tersebut mencakup pemangkasan tarif impor barang asal Taiwan, perluasan akses investasi di sektor kunci Amerika Serikat, serta pengaturan baru untuk memperkuat kapasitas produksi domestik AS. Langkah ini diharapkan dapat mempererat integrasi ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.

Pemangkasan Tarif Impor dan Akses Pasar

Dalam kerangka reciprocal trade agreement, pemerintah Amerika Serikat menyepakati penurunan tarif impor umum atas barang-barang asal Taiwan dari 20 persen menjadi 15 persen. Besaran tarif baru ini setara dengan tarif yang diterapkan AS kepada mitra dagang utama lainnya di kawasan, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Kebijakan ini berlaku untuk hampir seluruh kategori komoditas ekspor Taiwan ke AS, termasuk produk elektronik, suku cadang otomotif, serta barang konsumsi. Sebagai timbal balik, Taiwan berkomitmen memperluas pembelian produk AS guna menekan defisit perdagangan di sektor-sektor tertentu.

Komitmen Investasi Taiwan Senilai Rp4.200 Triliun

Pemerintah Taiwan menjanjikan aliran investasi asing langsung (FDI) senilai 250 miliar dollar AS atau setara Rp4.200 triliun (asumsi kurs Rp16.800 per dollar AS) ke wilayah Amerika Serikat. Fokus utama investasi ini akan menyasar pembangunan fasilitas semikonduktor canggih, teknologi kecerdasan buatan (AI), dan sektor energi.

Selain investasi langsung, Taiwan juga akan menyediakan jaminan kredit sebesar 250 miliar dollar AS melalui lembaga keuangan. Dukungan ini bertujuan untuk memfasilitasi ekspansi tambahan bagi perusahaan-perusahaan asal Taiwan yang beroperasi di pasar Amerika Serikat.

Fokus pada Industri Semikonduktor dan TSMC

Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah keterlibatan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Produsen chip terbesar di dunia tersebut telah menyatakan komitmen untuk menginvestasikan sedikitnya 165 miliar dollar AS dalam proyek produksi chip dan pusat penelitian di Arizona, AS.

Advertisement

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menilai kesepakatan ini sebagai momentum penting bagi transformasi ekonomi negaranya. Ia menegaskan bahwa ekspansi global TSMC akan dilakukan secara paralel dengan upaya menjaga basis produksi utama tetap berada di pulau Taiwan.

Penguatan Rantai Pasok dan Dampak Geopolitik

Perwakilan Dagang AS (USTR), Jamieson Greer, menyatakan bahwa perjanjian ini akan membuka peluang baru bagi petani, pekerja, dan produsen AS. Greer menekankan pentingnya kerja sama ini dalam meningkatkan ketahanan rantai pasok global, khususnya pada sektor teknologi tinggi yang selama ini sangat bergantung pada produksi Taiwan.

Secara geopolitik, perjanjian ini dipandang sebagai langkah strategis Amerika Serikat untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Taiwan di tengah ketegangan dengan China. AS berupaya melakukan reshoring atau pemindahan kembali proses produksi komponen penting ke wilayah domestik untuk menjaga kedaulatan teknologi nasional.

Proses Ratifikasi dan Tantangan Implementasi

Meski telah ditandatangani, pemberlakuan penuh perjanjian ini masih menunggu proses ratifikasi di Parlemen Taiwan. Saat ini, lembaga legislatif Taiwan yang dikuasai oleh partai oposisi akan melakukan evaluasi mendalam sebelum memberikan persetujuan akhir.

Keberhasilan implementasi investasi senilai 250 miliar dollar AS ini akan sangat bergantung pada dinamika pasar global, kebijakan fiskal kedua negara, serta koordinasi antara sektor publik dan swasta. Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat dan Pemerintah Taiwan yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement