Islami

AS Siapkan Skenario Serangan Militer ke Iran, Donald Trump Tunggu Hasil Diplomasi di Jenewa

Advertisement

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi militer intensif selama berminggu-minggu terhadap Iran sebagai langkah antisipasi instruksi Presiden Donald Trump. Rencana ini muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss.

Rencana Operasi Militer dan Risiko Eskalasi Kawasan

Dua pejabat AS mengungkapkan bahwa perencanaan kali ini jauh lebih kompleks dibandingkan operasi Midnight Hammer pada Juni tahun lalu. Jika sebelumnya serangan hanya menyasar fasilitas nuklir, skenario terbaru mencakup infrastruktur negara dan fasilitas keamanan Iran secara lebih luas.

Langkah tersebut dinilai memiliki risiko tinggi karena potensi serangan balasan dari gudang rudal Iran yang tangguh. “AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu,” ujar salah satu pejabat tersebut.

Upaya Diplomasi di Jenewa dan Posisi Gedung Putih

Di tengah ketegangan militer, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar negosiasi dengan pihak Iran di Jenewa pada Selasa (17/2/2026). Perundingan ini dimediasi oleh Oman guna mencari jalan keluar damai yang saat ini dinilai cukup rapuh.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa Presiden Trump tetap membuka seluruh opsi yang tersedia. Keputusan akhir akan diambil berdasarkan kepentingan terbaik bagi keamanan nasional Amerika Serikat, meskipun Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperingatkan sulitnya mencapai kesepakatan damai.

Advertisement

Pengerahan Kekuatan Militer di Timur Tengah

Kementerian Pertahanan AS telah mengonfirmasi pengerahan kapal induk tambahan, ribuan tentara, serta jet tempur ke kawasan Timur Tengah sejak Jumat (13/2/2026). Kekuatan ini disiapkan untuk mendukung operasi serangan maupun pertahanan jika diperlukan di pangkalan-pangkalan strategis kawasan.

Presiden Trump secara terbuka menyatakan frustrasinya terhadap proses diplomasi yang dianggap terlalu lama. Ia juga sempat menyinggung kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran sebagai solusi terbaik bagi situasi saat ini, sembari tetap memprioritaskan kekuatan udara dan laut dibandingkan pasukan darat.

Informasi lengkap mengenai perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah ini merujuk pada laporan resmi dan pernyataan narasumber yang dihimpun hingga Selasa (17/2/2026).

Advertisement